Government Shutdown

Sabigaju.com – Penutupan sementara aktivitas pemerintah Amerika Serikat (AS) atau ‘government shutdown’ hari ini telah memasuki hari ketiga pada Senin (22/1).

Hal ini terjadi sebagai buntut Senat gagal yang mencapai kesepakatan untuk memecah kebuntuan sebelum hari kerja yang dimulai awal pekan ini.

Sekitar satu juta pegawai federal tidak akan masuk kerja bila penghentian aktivitas pemerintahan masih berlangsung sementara pasar keuangan akan bereaksi terhadap disfungsi Washington tersebut untuk kali pertama sejak pemerintahan ditutup akhir pekan lalu.

Hingga hari ini belum ada tanda kapan aktivitas pemerintah Amerika Serikat dapat mulai beraktifitas. Kini muncul kekhawatiran kelumpuhan politik di Washington yang akan berdampak terhadap ekonomi Amerika serikat dan kekuatan militer negara tersebut.

Dampak Government Shutdown Terhadap Ekonomi AS

Penghentian sementara operasional Pemerintahan AS diprediksi berlangsung dari minggu ke-empat Januari hingga minggu kedua Februari 2018.

Walaupun ditutupnya pemerintahan AS, Komisi Bursa Efek dan Saham AS akan tetap buka dan beroperasi secara penuh untuk beberapa hari ke depan. Meski begitu, tidak diketahui langkah apa yang akan diambil jika shutdown berlangsung dalam waktu yang lama.

Namun demikian, Komisi Perdagangan Komoditi Masa Depan AS menyatakan akan memberikan cuti pada 95 persen pegawainya. Menurut juru bicara komisi, staf tambahan mungkin akan dipanggil jika ada keadaan darurat di pasar finansial.

Suasana perdagangan saham di Wall Street (Foto: cnbc)
Suasana perdagangan saham di Wall Street (Foto: cnbc)

Sementara instansi pemerintah dinas perpajakan AS, IRS hanya akan mempekerjakan 43,5 atau sekira 35 ribu pegawainya selama shutdown.

Hal ini dilakukan dengan skema rencana darurat Departemen Keuangan AS dalam menghadapi shutdown. Pengurangan pegawai ini diperkirakan akan berdampak pada penundaan pengembalian pajak kepada para wajib pajak.

Adanya shutdown Pemerintah AS akan berpengaruh terhadap nilai tukar dolar AS karena pemulihan ekonomi AS terganggu. Dalam hal ini rupiah akan diuntungkan terhadap pelemahan dolar AS.

Dolar AS turun ke level terlemah dalam tiga tahun. Aksi jual terjadi karena investor mempertimbangkan prospek penutupan pemerintahan AS dan tanda-tanda kenaikan inflasi. Namun saham Eropa menguat dan emas melonjak.

Dampak Shutdown Terhadap Militer

Di bidang militer, Departemen Pertahanan AS mengatakan, shutdown ini tidak akan mempengaruhi operasi militer AS di Afghanistan, Irak dan Suriah.

Namun, dilansir CNN, Menteri Pertahanan AS James Norman Mattis mengatakan penutupan pemerintah atau shutdown akan berperangaruh besar terhadap operasi militer Pentagon antara lain operasi pelatihan, pemeliharaan, dan intelijen.di seluruh dunia.

“Kegiatan pemeliharaan kami mungkin akan cukup banyak yang ditutup. Lebih dari 50 persen, seluruhnya dari angkatan kerja sipil. Kami juga melakukan banyak operasi intelijen di seluruh dunia dan harganya mahal, mereka pasti akan berhenti,” ujar Mattis dalam sebuah acara di Johns Hopkins University’s School of Advanced International Studies.

Tentara Marinir AS

Namun Mattis menegaskan penutupan pemerintah tidak akan berpengaruh terhadap kemampuan militer AS dalam melindungi warga negara. Seluruh personel militer yang berjumlah 1,3 juta akan tetap bertugas sementara personel sipil akan diberikan cuti. Kementerian Pertahanan AS tercatat memiliki 750 ribu karyawan sipil.

“Kami akan mempertahankan perlindungan terhadap rakyat Amerika,” tegas Mattis.

Mattis, yang berbicara dalam sesi tanya jawab setelah berpidato, mengatakan bahwa dia akan pergi akhir pekan ini untuk melakukan perjalanan ke Indonesia dan Vietnam. (Sbg/rig)

Comments