Sabigaju.com – Ada yang istimewa di halaman pertama google Indonesia. Hari ini, Minggu (26/3). Google menampilkan sebuah doodle berupa gambar animasi seorang perempuan yang sedang mengajarkan anak-anak bernyanyi. Perempuan berkacamata itu bernama Saridjah Niung yang lebih dikenal dengan nama Ibu Soed, seorang pendidik dan penulis lagu anak-anak legendaris Indonesia. Hari ini Ibu Soed merayakan ulang tahunnya yang ke-109.

Saridjah Niung alias Ibu Soed lahir di Sukabumi, Jawa Barat 26 Maret 1908. Beliau merupakan anak bungsu dari 13 bersaudara. Ayahnya seorang Bugis bernama Mohammad Niung merupakan seorang nelayan dan pemilik kapal, serta memiliki keterampilan handicraft. Namun sedari kecil beliau sudah diangkat menjadi anak oleh Mr. Kramer, seorang Jaksa Tinggi di Sukabumi (Vice President Hoge Rechtshof) yang merupakan keturunan Indo-Belanda. Walaupun Mr. Kramer berdarah Belanda, dari dialah Ibu Soed belajar tentang moral, jiwa nasionalisme, toleransi, dan juga yang mengenalkannya dengan musik.

Setelah lulus dari (HIS) Hollands Inlandsche School Sukabumi pada usia sebelas tahun, Ibu Soed pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan di sekolah guru (Kweekschool voor Inlandse Onderwijzers). Bakat seni yang diwariskan oleh ayahnya dan Mr. Kramer membawa perjalanannya untuk lebih serius menyelami dunia seni budaya dan lagu anak. Di sana beliau punya minat yang kuat pada pelajaran deklamasi, sandiwara, dan musik. Setelah masa pendidikannya usai, beliau ditugaskan untuk mengajar di HIS Jaga Monyet, Jakarta. Tetapi tak lama kemudian beliau pindah ke Sekolah Kartini, sebuah sekolah swasta. Tahun 1925 beliau menikah dengan Bintang Soedibjo, putra keturunan Patih Semarang yang ia kenal sejak sekolah.

Ibu Soed juga aktif dalam pergerakan nasional. Pada tahun 1945 Ibu Soed pernah menjadi sasaran aksi penggeledahan oleh pasukan Belanda. Rumah Ibu Soed di Jalan Maluku No. 36 Jakarta saat itu sudah dikepung oleh pasukan Belanda, namun tetangga Ibu Soed yang seorang Belanda meyakinkan mereka bahwa mereka salah sasaran, karena profesi Ibu Soed hanyalah pencipta lagu dan suaminya hanyalah pedagang. Walaupun selamat dari penggeledahan tersebut, Ibu Soed dan seorang pembantu tetap harus bersusah payah membuang pemancar radio gelap ke dalam sumur.

Peristiwa Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 memberikan kesan yang kuat bagi Ibu Soed. Hari itu menjadi inspirasinya untuk menciptakan lagu “Tanah Airku Tidak Kulupakan”, sebuah jeritan hati yang ia ungkapkan. Pada masa kependudukan Jepang tahun 1942, dunia kesenian berkembang pesat. Ibu Soed bersama Cornell Simanjuntak dan Kusbini mulai berkiprah di Keimin Bunka Shidosho (Kantor Kesenian) dan aktif dalam menyiarkan lagu-lagu lewat radio. Juga dari tempat inilah lahir karya beliau seperti “Menanam Jagung”, “Akulah Pahlawan”, dan lainnya. Tiga tahun kemudian, lahirlah karyanya “Berkibarlah Benderaku”.

Masa taman kanak-kanak dan sekolah dasar tahun 70-80-an adalah masa keemasan lagu-lagu Ibu Soed. Berbagai lagu-lagu karya Ibu Soed seperti Berkibarlah Benderaku, Bendera Merah Putih, Hai Becak, Nenek Moyangku, Desaku, Kupu-Kupu Yang Lucu dan masih banyak lagi menjadi lagu favorit setiap anak di tanah air. Sangat berbeda dengan masa kini di mana lagu lagu Justin Bieber, Katty Perry dan berbagai penyanyi asing lainnya menjadi lagu favorit sebagian besar anak-anak masa kini.

Atas berbagai usaha dan dedikasi yang dilakukannya untuk anak-anak di tanah air, pada tanggal 12 Agustus 1969 Pemerintah Indonesia menganugerahkan kepada Ibu Soed sebuah penghargaan “Perintis Dalam Penciptaan Lagu Kanak-Kanak Indonesia.” (Sbg /rig)

Comments