Foodstagramming
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Salah satu kebiasaan yang kerap dilakukan banyak orang belakangan ini adalah foodstagramming, dimana orang memfoto makanan yang akan mereka santap kemudian mengunggahnya ke media sosial. Tentunya, sambil menunggu respon kekaguman dari dunia maya.

Tak jarang, ada juga orang yang meluangkan waktu dan biaya untuk pergi ke restoran mahal dan memesan makanan istimewa demi ikut serta dalam tren ini.

Sebenarnya sah-sah saja untuk mem-posting makanan yang disuka, karena ini berarti kamu menikmatinya.

Namun, kalau kamu kamu menganggap foodstagramming sudah jadi bagian penting dari eksistensi dan interaksi sosial, sebaiknya kamu harus mulai mengurangi karena hal itu bisa mengganggu berbagai hal yang tidak kamu sadari.

BACA JUGA: Kebersamaan Mungkin Tak Selalu Ada, Yuk Ngopi Tanpa Wifi

Foodstagramming Mengubah Budaya Makan

Tren foodstagramming ini menunjukkan bahwa media sosial telah mengubah budaya kita tentang makan dan makanan. Foto makanan sekarang lebih penting dibanding makanan itu sendiri. Makanan yang dipesan tidak terlalu penting untuk di pertimbangkan.

Penampilan dan penyajian makanan lebih diutamakan dibanding rasa makanan.Tidak menjadi permasalahan jika makanan yang disediakan kurang enak, karena bukan hal tersebut yang diutamakan.

Hal ini dikarenakan foodstagramming membutuhkan tampilan makanan yang sekiranya menarik untuk difoto,karena kunci dari foodstagramming itu sendiri adalah mengunggah foto makanannya dengan semenarik mungkin di media sosial yang mereka miliki.

Fenomena foodstagramming ini bisa dibilang menggeser aspek agama dari makan dan budaya makan.

Bagaimana tidak, budaya makan,yang dulunya diawali dengan berdoa,kini seakan berubah. Banyak orang yang lebih memilih untuk memfoto makanannya dari berbagai sudut dan dengan berbagai gaya, ketimbang membaca doa sebelum makan.

BACA JUGA: Sering Makan di Kantor Punya Dampak Serius Lho Gaes

Tanda Punya Masalah?

Tak cuma mengganggu follower media sosial, ternyata foodstagramming bisa jadi pertanda bahwa dirimu mungkin punya masalah makan.

Setidaknya inilah yang diungkapkan oleh dr Valerie Taylor, kepala psikiatri di Women’s College Hospital, University of Toronto, Canada.

Taylor mengungkapkan bahwa obsesi untuk mendokumentasikan makanan menjadi tanda bahwa Anda punya masalah diet yang besar.

“Saya melihat bahwa kebiasaan ini membuat banyak orang memilih makanannya. Bukan lagi memilih makanan karena ingin diet atau hidup sehat. Tapi, memilih makanan mana yang keren untuk difoto dan membanggakan kalau dia sudah pernah makan di restoran mahal tersebut,” urainya.

BACA JUGA: Seram! Ini Dia Bahaya Kecanduan Minum Kopi

Ia menambahkan bahwa kini orang tak hanya makan untuk mendapat nilai gizi saja. Mereka jadi berpikir bahwa makanan mahal, waktu makan, tampilan yang menggiurkan, dan restoran yang dipilih, jadi kunci utama eksistensi mereka di media  sosial.

Akibatnya, mereka berisiko mengalami gangguan kesehatan, pola hidup yang tak sehat, dan obesitas.

Nah, apakah Kamu setuju kalau  foodstagramming tidak lebih dari kegiatan manipulasi dan tipu tipu kehidupan seseorang yang dilakukan lewat makanan?(Sbg/Rig)

Comments