Emotional eating adala pola makan yang tidak sehat
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Kala stres melanda diri, dihinggapi kebosanan ataupun tengah merasakan kesdihan tak sedikit orang yang melampiaskannya dengan menyantap sejumlah makan.Nah, jika kamu kerap melakukan hal itu maka kamu termasuk dalam kelompok emotional eating.

Mereka ini tanpa sadar memilih “menyelesaikan” masalahnya dengan mengunyah makanan. Dan biasanya cenderung menyantap makanan berat seperti mie atau pizza ataupun jenis makanan yang tinggi lemak, garam, dan gula.

Kebiasaan emotional eating ini sebenarnya tidak baik dan punya dampak terhadap kesehatan jika terus berlanjut.

Sebab kita bakal rentan terkena penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, atau pun gangguan psikologis.

BACA JUGA:  Mindful Eating untuk Atasi Aktivitas Makan Berlebih

Kenali Pemicu Emotional Eating

Menurut Senior Director, Worldwide Nutrition Education and Training, Herbalife Nutrition, Susan Bowerman mengatakan respon alami tubuh terhadap stres membuat kita lebih “aktif” dan waspada. Dalam jangka panjang hal ini menurunkan kekebalan tubuh.

“Karena sistem kekebalan tubuh yang baik bergantung pada pola makan kaya nutrisi, maka menjamin terpenuhinya kecukupan nutrisi tubuh menjadi salah satu pertahanan terbaik melawan penyakit, terutama menghadapi masa-masa ketidakpastian seperti saat ini,” kata Bowerman.

Ia menjelaskan, jika makanan yang kita konsumsi berkalori tinggi, hal itu dapat merangsang pelepasan zat kimia tertentu di otak yang membuat kita merasa lebih baik.

Setidaknya itu terjadi dalam jangka pendek. Akibatnya, kita ingin makan terus agar rasa happy itu tetap ada.

BACA JUGA:  Begini Cara Meredakan Empat Masalah Mental di Masa Pandemi

Cara Mengendalikan Emotional Eating

Mengendalikan nafsu makan Mengusir stres dari pikiran memang tidak mudah, tetapi ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan dorongan makan.

Bowerman merekomendasikan untuk menambahkan unsur protein tanpa lemak dalam menu harian, misalnya daging unggas, telur, daging tanpa lemak, ikan, atau produk kedelai.

“Protein memuaskan rasa lapar dan membantu kita waspada secara mental. Lengkapi juga pola makan dengan buah-buahan segar, sayuran, dan biji-bijian,” katanya.

Ketika sedang stres, sangat mudah untuk menunda makan atau bahkan melewatkannya sama sekali. Akibatnya tingkat energi menurun dan kita jadi terus mengasup camilan.

Jika stres mengurangi nafsu makan Anda, cobalah makan dalam jumlah sedikit tapi sering. Selain itu, luangkan waktu ekstra untuk makan agar bisa makan lebih lambat dan santai.

BACA JUGA:  Lawan Kecemasan Pandemi Corona dengan Meditasi Mindfulness 

Aktif Bergerak dan Kurangi Kafein

Cari cara lain untuk menenangkan diri, selain dengan makan. Melakukan jalan cepat, mendengar musik, atau minum secangkir teh herbal bisa jadi pilihan.

Kurangi kafein karena bisa mengganggu tidur sehingga esoknya Anda bangun dengan perasaan kurang segar dan makin stres.

Yang tidak kalah penting adalah menyelesaikan masalah utamanya. Carilah teman bicara yang tepat sehingga Anda bisa menemukan solusi untuk stres, atau setidaknya ada teman untuk mendengar keluh kesah.

Bila perasaan cemas dan stres Anda makin besar, mintalah bantuan profesional psikologi agar kamu tidak lagi mempraktikan emotional eating.

Menyelesaikan masalah dengan menyantap makanan yang tidak sehat cuma bikin masalah buat kesehatan. Yuk hentikan emotional eating.(Sbg/Rig)

Comments