Elephant Kind
Band indie pengusung urban pop Elephant Kind terbentuk lewat sebuah kisah yang bisa dibilang unik. (Foto: Instagram elephantkind)

Sabigaju.com – Ada berbagai kisah unik yang melatarbelakangi lahirnya sebuah band. Mulai dari kebersamaan di lingkungan tinggal, satu sekolah dan masih banyak lagi.

Begitu pula yang dialami oleh sebuah band pengusung Urban Pop yang kini tengah naik daun Elephant Kind. Seperti apa kisah unik band Elephant Kind. Simak ulasannya berikut ini.

Baca Juga:

Terbentuknya Elephant Kind

Elephant Kind terbentuk pada 2014 dan telah menghasilkan dua album pendek. Satu album penuhnya, City J yang berisi 12 track, terbit pada September 2016

Berawal dari tugas akhir sang vokalis saat menempuh pendidikan di Australia, grup band Indonesia asal Jakarta ini mulai merintis karirnya pada pertengahan 2013 dengan sajian menu yang berbeda dari band pop pada umumnya di Indonesia.

Elephant Kind
(Foto: Instagram elephantkind)

Bam Mastro berkolaborasi dengan adiknya pada proyek band Neonomora sebagai penulis lagu, komposer dan produser musik. Proyek ini telah sangat sukses.

Belakangan Bam memutuskan pindah kembali ke Jakarta Bam mulai mengembangkan karirnya sebagai musisi.

Proyek dengan Neonomora membuatnya bertemu John, Bayu dan Dewa yang kemudian bergabung bersama untuk membentuk Elephant Kind.

Konsep Patah Hati

‘Patah hati’ dipilih sebagai konsep band yang digawangi oleh Bam Mastro. Nama Elephant Kind, menurut Bam, terinspirasi dari sebuah kicauan di Twitter.

“An elephant can die from a broken heart,” demikian bunyinya. Selain itu, ia juga mengaku kagum akan kekuatan binatang bergading yang masih sanggup berdiri meski telah mati itu.

Elephant Kind
(Foto: Instagram elephantkind)

Dari filosofi itu, pengusung urban pop ini mengembangkan musiknya bagi mereka yang patah hati. Musik Elephant Kind seolah jadi penghibur bagi mereka yang tersakiti, tak hanya oleh cinta tapi juga yang hal lain.

Hasil Racik Berbagai Cita Rasa Musik

Lirik dan musik berisi lagu-lagu elephant Kind dikenal sangat emosional dan relevan.

Hal itu tak lepas dari pengaruh selera para personil band urban pop tersebut.Bam gemar rap dan hip hop, Bayu memilih aliran punk, sementara Dewa dengan EDM.

Mereka sekan menggabungkan berbagai genre dari berbagai pengaruh seperti; Michael Jackson, Queen, Bon Iver, Kanye West, Sigur Ros, David Bowie, Arcade Fire, Kings of Leon, dan banyak lagi dalam karya-karya mereka.

Elephant Kind
(Foto Instagram elephantkind)

Nada yang mereka sajikan pun kerap memunculkan rasa penasaran sebab band ini mengemas semua liriknya dengan bahasa Inggris.

Album itu juga ikut ditangani seorang ahli musik asal Australia, Lee Buddle. Dia pernah menggarap musik untuk penyanyi dunia seperti Kelly Clarkson dan Justin Bieber. Buddle sendiri merupakan guru Bam di Western Australian Academy of Performing Arts.

Dari segi musik, apa yang dilakukan band ini  sungguh tidak mengecewakan. Mereka mampu menyeduh bunyi-bunyian yang beragam dalam padu musik yang nikmat.

Bentuk Manajemen

Sebagai band indie, Elephant Kind memasarkan karya mereka sendiri melalui situsnya.

Sebelum album debut, band ini  sempat merilis dua album mini yang disertai film pendek. Kedua album mini itu adalah Scenarios: A Short Film by Elephant Kind (2014) dan Promenades: A Short Film by Elephant Kind (2015).

Elephant Kind
(Foto Instagram elephantkind)

Band ini kini telah memiliki manajemen independent bernama Cubs Club yang dijalankan langsung oleh para personilnya. Keputusan tersebut sebagai langkah untuk belajar mandiri.

Mereka menilai sudah sepantasnya untuk berjalan sendiri, dibanding bergabung dengan manajemen lain. Apalagi di era digital telah memudahkan akses untuk mengenalkan diri ke publik. (Sbg/Rig)

Comments