Sabigaju.com – Sabtu (17/3) kemarin Sudin Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu dan Jakarta Utara turun tangan untuk membersihkan sampah di Teluk Jakarta, tepatnya di Kawasan Hutan Mangrove Ecomarine, Pluit, Jakarta Utara. Sebanyak 100 orang petugas bekerja sama membersihkan sampah di lokasi tersebut. Hingga Sabtu sore, sampah yang sudah terangkut dari kawasan tersebut mencapai 16 ton. Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Kepala Seksi Pengendalian Dampak Lingkungan dan Kebersihan, Sudin LH Kepulauan Seribu, Ari Wibowo.

Sampah tersebut diangkut menuju dermaga Kali Adem, Muara Angke menggunakan empat kapal fiber. Un sudah menggunakan empat kapal fiber, tetapi kapal tersebut harus bolak balik sebanyak empat kali untuk mengangkut sampah sebanyak 16 ton. Setelah sampai dermaga, selanjutnya sampah akan diangkut menuju tempat pembuangan akhir di Bantar Gebang, Bekasi.

Sebanyak 16 ton sampah yang sudah terangkut dari Teluk Jakarta kemarin didominasi oleh sampah plastik dan sampah rumah tangga. Sampah yang memenuhi bibir pantai di kawasan hutan bakau Muara Angke, Jakarta Utara tersebut berasal dari berbagai daerah di Jakarta. Sampah-sampah itu mulai menumpuk di kawasan tersebut pada awal Februari 2018 setelah sebelumnya dibawah oleh angin barat. Fenomena angin barat ini mulai terjadi pada Desember tahun 2017 lalu.

Pembersihan sampah di Teluk Jakarta yang mencapai belasan ton sampah itu menimbulkan ironi tersendiri. Sampah tersebut berkumpul di wilayah yang dekat dengan hutan bakau sehingga untuk pembersihannya pun tidak bisa menggunakan alat berat karena berisiko tinggi merusak wilayan tersebut.

Sampah Plastik juga Mengotori Perairan di Nusa Penida

Selain di Teluk Jakarta, pada awal Maret 2018 lalu, BBC Indonesia juga sempat menayangkan berita tentang kondisi laut di Nusa Penida, Bali yang juga dipenuhi oleh sampah. Seorang penyelam asal Inggris, Rich Horner menyelam di kawasan Nusa Penida sambil merekam kondisi lingkungan di tempat tersebut. Dalam videonya yang dia sebarkan, situasi laut di Nusa Penida memang dipenuhi oleh sampah plastik. Kepadatan sampah di lokasi tersebut memang tidak separah tumpukan sampah di Teluk Jakarta. Akan tetapi, banyak atau sedikit sampah di lautan tetap berisiko tinggi merusak ekosistem dalam lingkungan laut.

Sampah di Lautan menjadi Isu Global

Persoalan sampah yang memenuhi lautan ini sesungguhnya sedang menjadi isu global. Bukan hanya Indonesia yang lautnya tercemar oleh sampah plastik. Negara lain seperti Australia dan Kenya pun mengalaminya. Namun sayangnya, pada tahun 2015 lalu hasil riset Jenna Jambeck, peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat mempublikasikan bahwa Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik nomor dua di dunia. Berat sampah plastik yang disumbang kala itu mencapai 187,2 juta ton.

Ancaman dan Dampak Sampah Plastik di Laut

Sampah plastik yang mengotori lautan tersebut memicu ancaman yang serius. Dikutip dari Mongabay.co.id, Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Kemenko Bidang Kemaritiman Arif Havas Oegroseno mengungkapkan bahwa setidaknya ada tiga ancaman terhadap laut kita, yakni ancaman tradisional, kriminal, dan yang disebabkan alam.

Ancaman tradisional biasanya disebabkan oleh penangkapan ikan yang masih dan serampangan. Sementara ancaman kriminal di antaranya disebabkan oleh penangkapan ikan yang ilegal. Lalu ancaman alam yang nyata adalah perubahan iklim yang sesungguhnya dipicu oleh ulah manusia seperti membuang sampah sembarangan dan berakhir mengotori lautan.

Sesungguhnya bukan hanya tiga ancaman tersebut saja. Sampah yang memenuhi lautan juga berpotensi besar dikonsumsi oleh ikan. Akibatnya, makhluk laut tersebut lambat laun akan punah karena tercemar oleh sampah yang dikonsumsinya. Tak hanya berhenti di situ saja, ikan-ikan yang kita konsumsi dan berasal daerah kawasan kotor penuh sampah berisiko telah tercemar sehingga nutrisi yang ada pada tubuh mereka lenyap dan justru menimbulkan risiko baru bagi manusia yang mengonsumsinya.

Oleh karena itu, pembersihan sampah di Teluk Jakarta sesungguhnya menjadi tamparan keras bagi kita. Penggunaan plastik sekali pakai yang yang berlebihan ternyata menimbulkan dampak yang semengerikan itu untuk lingkungan sekitar. Bila memang belum bisa mengurangi konsumsi plastik yang tinggi, setidaknya buanglah sampah pada tempatnya. Jangan sampai penumpukan sampah plastik dan sampah rumah tangga yang terjadi di Teluk Jakarta terulang di wilayah lain di perairan Indonesia.  (sbg/Erny)

Comments