Sabigaju.com – Perubahan iklim dan pemanasan global menjadi salah satu penyebab utama rusaknya keanekaragaman hayati di dunia. Dalam pertemuan ilmuan yang diselenggarakan pada Jumat (23/03/2018) di Medellin, Colombia, perwakilan dari Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) mempresentasikan empat laporan penting. Salah satu laporan penting tersebut adalah tentang kehancuran dan kemunduran keanekaragaman hayati. Satu dari sekian banyak prediksi tentang risiko yang ditimbulkan oleh kehancuran dan kemunduran keanekaragaman hayati tersebut mengancam persediaan stok ikan di Asia-Pasifik.

Stok ikan yang menipis

Laporan yang dipresentasikan oleh PBB tersebut merupakan hasil dari pengamatan yang dilakukan di empat wilayah berbeda yaitu, Amerika, Asia-Pasific, Afrika, dan Eropa-Asia Tengah. Penelitian ini melibatkan 550 ahli dari lebih 100 negara. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa perubahan iklim memberi tekanan besar terhadap keanekaragaman hayati di dunia. Platform Ilmu Pengetahuan Antarpemerintah tentang Layanan Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem (IPBES) mengamini hal tersebut.

Dari beberapa temuan peniliti yang didasarkan penelitian ini menunjukkan bahwa ancaman serius juga mengintai Asia-Pasifik. Disebutkan bahwa Asia Pasifik terancam kehabisan stok ikan pada tahun 2048 yang disebabkan oleh penangkapan komersil. Hal tersebut cukup ironis mengingat luas lautan di daerah ini sangat besar. ‘

Photo by chuttersnap on Unsplash
Perubahan iklim dan keanekaragaman hayati laut

Di samping itu, stok ikan yang menipis juga disebabkan oleh perubahan iklim. Perubahan iklim memang menjadi penyebab dari berbagai persoalan terkait keanekaragaman hayati di laut. Padahal, keanakaragaman hayati laut memiliki peran penting dalam melindungi ikan dari perubahan iklim. Dikutip dari Kompas.com, Proceeding of the National Academy of Science sudah pernah menerbitkan hasil studinya pada tahun 2016 silam yang menunjukkan bahwa faktor utama yang membantu ikan untuk bertahan melawan perubahan iklim adalam biodiversitas laut. Dengan demikian, antara ikan dan keanekaragaman hayati di laut memiliki hubungan siombosis untuk bertahan melawan efek buruk perubahan iklim.

Masyarakat perlu sadar

Perubahan iklim bukanlah dongeng atau mitos. Perubahan iklim sepertinya layak disebut sebagai bencana yang tak kasat mata. Mungkin karena itulah masyarakat cenderung belum benar-benar sadar terhadap risiko yang ditimbulkan bila kita tidak lekas beraksi untuk memperlambat perubahan tersebut. Salah satu buktinya adalah peristiwa ironi tumpukan sampah di Teluk Jakarta beberapa waktu lalu. Hal tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kesadaran untuk tidak buang sampah sembarang masih rendah.

Mengotori lautan kita dengan sampah sesungguhnya bisa mempercepat habisnya stok ikan. Air laut yang tercemar tidak hanya menghambat ikan untuk berkembang biak, namun kandungan protein dan gizinya pun akan menurun saat dikonsumsi. Di samping itu, hal tersebut juga bisa merusak keanekaragaman hayati yang berfungsi membantu ikan bertahan melawan perubahan iklim.

Keanekaragaman hayati dan manusia

Robert Watson ketua dari Platform Ilmu Pengetahuan Antarpemerintah tentang Layanan Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem (IPBES) mengungkapkan bahwa keanekaragaman hayati dan alami memiliki peran penting bagi kehidupan manusia. Menurutnya, keanekaragaman hayati merupakan pondasi dari makanan manusia, air bersih, dan energi. Dia juga menambahkan kalau keanekaragaman hayati merupakan jantung kehidupan, budaya, identitas, sekaligus kenikmatan bagi manusia. Ungkapan Watson tersebut sangat tepat untuk diamini. Sayangnya, membangun kesadaran masyarakat bahwa keanekaragaman hayati ini perlu dijaga dengan segenap jiwa bukan perkara yang mudah. Padahal dengan kesadaran tersebut, kita bisa menyangkal prediksi Asia-Pasifik kehabisan stok ikan pada tahun 2048 mendatang. (sbg/Erny)

Comments