Robot seks
Kini kita tengah memasuki era  gelombang kedua digiseksual dimana bakal banyak manusia yang secara terbuka menyatakan tertarik pada robot seks. (Foto/Ilustrasi: Runmonash

Sabigaju.com – Orientasi seksual saat ini tidak lagi terbatas pada berbeda atau sesama jenis kelamin. Yup, kini mulai muncul cukup banyak orang  yang menyatakan tertarik pada robot seks atau dijuluki oleh ilmuwan sebagai “digisexuality” atau “digiseksual”.

Mengutip New York Times belum lama ini profesor filosofi di University of Manitoba, Kanada, Neil McArthur bersama profesor pengembangan manusia dan studi keluarga di University of Wisconsin-Stout, Markie Twist menerbitkan sebuah makalah di tahun berjudul “The Rise of Digisexuality”. Penelitian ini terbit di jurnal Sexual and Relationship Therapy.

Keduanya menggambarkan antara “gelombang pertama” digiseksual seperti pornografi daring, aplikasi kencan, sexting, dan mainan seks, hanya sebuah sistem pengiriman untuk pemenuhan seksual dan digiseksual gelombang kedua.

BACA JUGA:

 

Robot Seks Sebagai Gelombang Kedua Digiseksual

menurut Markie Twist, Gelombang kedua  digiseksual sendiri diciptakan saat para ilmuwan membentuk hubungan yang lebih dalam melalui teknologi imersif seperti realitas virtual, augmented reality, dan robot seks dengan kecerdasan buatan. Ini terkadang, meniadakan kebutuhan pasangan bagi manusia sama sekali.

“Apa yang mereka sukai adalah teknologi seks, mainan yang bisa mereka kontrol dengan perangkat teknologi mereka, yang melekat pada penis atau vulva,” ujar Twist.

Robot seks
(Foto: Instagram)

“Mereka belum melakukan kontak dengan manusia dan benar-benar tidak memiliki minat dalam berhubungan seks dengan seseorang. Inilah yang ingin mereka lakukan dan jika mereka mampu membeli robot seks, mereka akan melakukannya,” ungkap Twist.

Sementara itu, McArthur menyatakan, saat ini orientasi seksual mereka mungkin tampak sebagai sesuatu yang menyimpang. Namun, setiap kemajuan dalam teknologi seks suatu saat akan menjadi normal setelah mengalami perlawanan budaya.

“Setiap kali kita memiliki teknologi baru, ada gelombang alarmisme yang mengikuti,” ujarnya.

“Itu terjadi pertama kali dengan pornografi, kemudian kencan daring, kemudian sexting di Snapchat. Satu demi satu teknologi ini muncul dan ada gelombang kepanikan.

Tetapi ketika orang mulai menggunakan teknolog ini, mereka menjadi bagian dari kehidupan kita,” kata McArthur.

Robot Seks Merusak Pernikahan

Saat ini banyak pasangan yang memanfaatkan robot seks untuk mengatasi masalah hubungan suami istri. Dimana seiring berjalannya waktu, gairah berkurang karena kesibukan pekerjaan atau mengurus anak-anak yang menguras energi.

Menurut, Becky Spelman kepada Daily Star Online. mengingatkan hal mengenai pentingnya kesepakatan pasangan dan pandangan yang sama sebelum memanfaatkan robot seks.

Robot seks
(Foto: Pixabay)

Menurut Becky, setiap pasangan sebaiknya menyepakati sejauh mana robot akan digunakan. Jika suami istri punya pandangan berbeda soal penggunaan robot, piranti itu justru bisa merusak pernikahan.

Robot itu bisa menyebabkan kecemasan dan gejolak emosi sehingga membuat ganjalan di antara pasangan yang ingin berdamai. “Robot seks bisa memunculkan banyak kemungkinan karena didesain menciptakan derajat kepuasan yang lain. Robot ini bisa melahirkan rasa cinta, perlindungan, kemarahan, dan menjadi obyek obsesi,” ungkapnya.

Direktur dan pendiri Realbotix Matt Mullen yang memproduksi robot seks mengklaim produknya bertujuan menanggulangi praktik prostitusi.

Penggunaan robot seks juga disebut memberi manfaat bagi kesehatan dan hubungan sosial. Pakar kecerdasan buatan David Levy menyebut penggunaan robot seks mampu mengurangi angka penyakit menular seksual. (Sbg/Rig)

Comments