Sabigaju.com – Kehadiran platform baru Instagram IGTV untuk menonton video format vertikal berdurasi panjang, berhasil menyedot perhatian netizen di seluruh dunia. Hal tersebut terlihat dari banyaknya pengguna media sosial yang membicarakan platform tersebut.

Lewat platform IGTV, jika dulunya para pengguna terbiasa menggunakan Instagram untuk mem-posting foto saja, kini para pengguna justru lebih sering mengunggah aktivitasnya di fitur Instagram Stories, sebuah fitur yang memungkinkan para penggunanya membagikan video berdurasi 15 detik dengan berbagai filter. Berangkat dari situ, Instagram meluncurkan fitur baru yang bernama IGTV.

Namun, sejak diluncurkan secara resmi pada 20 Juni lalu, IGTV sepertinya hanya cocok buat mereka yang punya banyak kuota internet. Selain itu platform IGTV ini yang disebut-sebut bakal menjadi pesaing YouTube hingga kini IGTV sepi peminat. Apa sebenarnya yang terjadi? Berikut berbagai dugaan yang menjadi penyebab IGTV sepi peminat yang dihimpun Sabigaju dari berbagi sumber.

1. Bikin Kuota Boros, IGTV Sepi Peminat?

Platform IGTV dirancang oleh Instagram untuk memutar suatu video secara otomatis atau Autoplay seperti layaknya TV. Namun beberapa pengguna tidak menyukai sistem Autoplay ini. Dengan alasan kuota internet yang mereka miliki cepat habis.

IGTV belumlah secanggih YouTube. Situs web berbagi video itu sudah menyediakan beberapa pilihan kualitas resolusi. Tak hanya itu, di YouTube kamu juga bisa menyimpan bebera video dengan fitur offline, jadi para pengguna akan lebih hemat.

Sedangkan, IGTV enggak menyediakan layaknya YouTube tersebut. Hal ini pada akhirnya bisa menyebabkan penggunaan kuota yang boros. Belum lagi kita dihadapkan dengan masalah yang sering dialami oleh penyedia jasa video streaming, di mana pengguna diharuskan punya jaringan yang sangat bagus.

Jadi, kalau internet kurang lancar, kita cuma bisa lihat video IGTV dengan kualitas yang jelek dan terputus-putus. Hal itu menjadikan IGTV sepertinya masih kurang dilirik oleh masyarakat Indonesia.

2. Ribetnya Video yang Bersifat Portrait

Platform IGTV menggunakan video yang berbentuk Portrait alias vertikal. Pengguna IGTV sama sekali tidak bisa memasukkan video dengan perspektif horizontal ke platform ini. Aspect ratio video vertikal tersebut adalah 9:16, serupa dengan yang digunakan pada Instagram Stories.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan video yang berbentuk portrait. Namun, sebagian pengguna merasa aneh dan tidak terbiasa jika melihat video yang berbentuk portrait.

Sementara itu, YouTube tidak membatasi format video yang diunggah. Penggunanya bisa saja mengunggah video vertikal, dengan konsekuensi adanya area hitam di sisi kiri serta kanan kecuali mode full view atau mengunggah video horizontal.

3. Gak Punya Fitur Monetisasi juga Bikin IGTV Sepi Peminat

Salah satu faktor penting yang membuat IGTV masih sepi adalah tidak adanya fitur monetisasi dalam IGTV. Padalah fitur monetisasi adalah fitur yang sangat diharapkan oleh para content creator agar hadir di IGTV. Namun, fitur tersebut tidak disematkan oleh pihak Instagram.

Padahal, katanya IGTV ini bakalan menjadi pesaing YouTube lantaran bisa menggaet uang dengan cara menampilkan iklan dalam konten yang mereka buat.

4. Butuh Aplikasi Edit Tambahan

Hal terakhir yang membuat IGTV kurang diminati, yaitu perlunya editan tambahan untuk membuat video di IGTV. Karena IGTV menggunakan video yang berbentuk portrait.

Jadi, apabila sebelumnya video yang kamu miliki berbentuk landscape, maka kamu harus mengedit video tersebut menjadi portrait agar videomu dapat enak dilihat jika di-upload di IGTV.

Menurut kamu apakah ada lagi hal yang membuat IGTV kurang diminati oleh beberapa pengguna Instagram?

5.  Belum Bisa Siaran Langsung

Sepinya peminat bisa juga lantaran kini IGTV tidak bisa digunakan untuk siaran langsung, sebagaimana Instagram Stories. Namun tidak menutup kemungkinan Instagram bakal menghadirkan fitur siaran langsung ke IGTV, dalam waktu dekat.

Apalagi ini merupakan salah satu fitur yang memikat bagi para konten kreator. Di sisi lain, YouTube sudah lama memiliki fitur siaran langsung. Sudah banyak sekali yang memakai fitur ini untuk menyiarkan konten videonya di YouTube, mulai dari para vendor gadget saat peluncuran produk mereka hingga media. (Sbg/Rig)

Comments