Layangan Putus
(Foto: Unsplash)

Sabigaju.com – Belakangan ini media sosial diramaikan dengan perbincangan kisah yang dijuluki Layangan Putus.

Cerita haru tersebut mengisahkan tentang kondisi pasangan suami istri yang terpaksa berpisah karena adanya orang ketiga.

Setelah mendapatkan perhatian kisah Layangan Putus pun langsung menuai simpati dari wargane, netizen ramai-ramai membagikan cerita tersebut.

Bahkan viralnya Kisah Layangan Putus ini membuat banyak orang memercayai kisahnya hingga mencari tahu sosok laki-laki dan perempuan yang dituduh menjadi orang ketiga dalam hubungan tersebut.

Padahal seperti diketahui, cerita itu belum diketahui kebenarannya bahkan terkesan fiktif. Lantas apa sebenarnya yang membuat orang begitu mudah percaya akan sebuah kisah yang belum tentu benar adanya?

BACA JUGA: Pikirkan 6 Hal ini Sebelum Merebut Cewek Sahabatmu 

Penyebab  Orang Mudah Percaya Pada Kisah yang Belum Tentu Benar

Jika dikaji lebih dalam ada tinjauan ilmiah di balik viralnya kisah layangan putus,  dimana orang bisa percaya akan sebuah cerita yang belum tentu  pasti kebenarannya.

Sebab  menurut penelitian, banyak orang memiliki setidaknya pernah percaya beberapa hal yang salah.

Salah satu penyebabnya ditenggarai lantaran manusia secara rutin menggunakan jalan pintas mental untuk bisa memahami hal-hal yang terjadi di sekitar mereka.

Ini terjadi karena, manusia tidak memiliki waktu untuk menganalisis kebenaran kabar yang diterima dengan cermat. Dengan demikian, manusia cenderung menggunakan aturan praktis yang cepat dan tidak disadari untuk menentukan apa yang harus dipercaya.

Sehingga, hal ini mengarahkan mereka untuk memercayai kabar yang belum diketahui kebenarannya.

Kondisi ini terjadi ketika sebuah kejadian itu lebih terasa atau hidup dalam ingatan seseorang.Kemudian, ingatan tersebut mengendap dan menjadi kepercayaan umum

Ingatan yang mengendap tersebut bisa mengakibatkan adanya bias pada suatu peristiwa. Dengan demikian, seseorang bisa langsung memercayai sebuah kabar karena adanya kedekatan atau akan ingatan khusus yang mengendap atas peristiwa tersebut.

BACA JUGA: Hati-Hati Nih!  7 Tanda Teman Menyukai Pacar Kita

Fenomena Emotional Reasoning

Disukai atau tidak, sebagian besar orang dapat dengan mudah terombang-ambing oleh emosi yang terjadi.

Manusia berpikir jika perasaan dan emosi mereka dikendalikan oleh logika dan alasan yang masuk akal.

Sayangnya, hal ini selalu terbalik. Terkadang, manusia pada akhirnya menggunakan kemampuan berpikir mereka untuk membenarkan perilaku mereka yang memang terbawa emosi.

Fenomena ini dikenal dengan nama emotional reasoning atau penalaran emosional yang bisa menyesatkan seseorang tanpa mereka sadari. Psikiater Aaron T. Beck pertama kali memperhatikan hal ini terhadap pasien yang mengalami depresi.

Dia menemukan banyak pasien yang menyimpulkan hal yang tidak benar terhadap diri mereka sendiri berdasarkan apa yang mereka rasakan, dibanding pada fakta sebenarnya.

Kondisi ini kemudian bisa memengaruhi keyakinan seseorang akan sebuah topik. Bahkan ketika mereka merasa takut, cemas, atau bahkan tidak nyaman terhadap suatu topik.

Hal itu membuat mereka  melompat langsung pada sebuah kesimpulan jika topik tersebut buruk atau berbahaya.

BACA JUGA: #tipsom2: Pelakor dan Pebinor, Bagaimana Menanggapi Fenomena Ini? 

Contoh paling mudah bisa dilihat di media sosial, dimana seseorang cenderung mengikuti akun-akun yang sesuai dengan kepercayaan dan kepribadian mereka sendiri.

Kecenderungan inilah yang membuat mereka pada akhirnya mendapatkan pandangan sesuai dengan apa yang mereka yakini.

Dengan kata lain, ketika sebuah kabar seperti misal Kisah Layangan Putus tersebar dan sesuai dengan apa yang diyakini, maka bisa jadi begitu banyak orang bisa langsung memercayainya.

So, boleh-boleh aja membaca kisah Layangan Putus. Tapi,  apa bijak kalau kita  langsung percaya? (Sbg/Rig)

Comments