Rasialisme dan kebrutalan polisi menjadi beberapa hal yang memicu kerusuhan di Amerika serikat
(Foto: Julio Cortez/Associated Press)

Sabigaju.com – Unjuk rasa besar-besaran yang terjadi lantaran buntut tewasnya George Floyd karena diinjak lehernya oleh polisi kini sudah merembet ke sekitar Gedung Putih di Washington Amerika Serikat (AS) dan menjalar setidaknya ke 48 kota.

Aksi unjuk rasa yang berlangsung di sejumlah wilayah di AS terkait kematian George Floyd rupanya turut diikuti oleh para selebriti papan atas.

Ariana Grande, Halsey, Emily Ratajkowski, Madison Beer, John Cusack, hingga pasangan penyanyi Shawn Mendes dan George Floyd turun ke jalan ikut menyuarakan protes atas ketidakadilan yang berlangsung di Negeri Paman Sam.

BACA JUGA: Detoks Maskulinitas: Kekerasan Bukan Gambaran Pria Sejati

Kekerasan Polisi dan Rasisme Masalah yang belums Selesai di AS

Aksi unjuk rasa sudah memasuki hari keenam di Negeri Paman Sam dan tidak ada tanda-tanda akan mereda.

Pertanyaan kemudian muncul mengapa kematian Floyd bisa memicu  aksi unjuk rasa yang luar biasa besarnya di Negeri  adidaya itu kini tengah dihadapi permasalahan besar lainnya yakni pandemik COVID-19.

Hal ini tak lepas lantaran Mereka menilai peristiwa semacam ini terus berulang dari tahun ke tahun. Pembunuhan yang menimpa Floyd dianggap merupakan kelanjutan dari kisah-kisah serupa di masa lalu.

Kasus polisimenganiayaa george Floyd Hingga tewas picu tdemp besar di Amerika pada Minggu Terakhir mei 2020
(Foto: Instagram)

Setidaknya ada tiga peristiwa pembunuhan yang melibatkan polisi di negara bagian Minnesota dan dinilai semena-mena. Pertama, tahun 2015 penembakan terhadap pria berusia 24 tahun, Jamar Clark. Ia ditembak oleh polisi

Kedua, polisi menembak mati Philando Castile pada tahun 2016 lalu. Castile ditembak mati oleh polisi ketika mobilnya diminta untuk berhenti di pinggir jalan. Polisi meminta agar Castile menunjukkan dokumen berupa SIM dan kartu identitas.

Alih-alih berakhir damai, Castile justru ditembak dengan alasan, polisi menduganya akan mengambil senjata dan menembak otoritas setempat.

Aksi Unjuk Rasa di AS
(Foto: Instagram)

Hal lain yang tak lekang dari ingatan adaalah saat pembunuhan terhadap perempuan asal Australia bernama Justine Damond. Pelaku yang juga polisi diketahui bernama Mohamed Noor.

Damond justru ditembak ketika hendak melaporkan telah terjadi upaya pemerkosaan yang menimpa dirinya di rumahnya di Minneapolis tahun 2017 lalu. Ketika sidang digelar pada 2019 lalu, Mohamed mengakui penembakan terhadap Damond merupakan sebuah kesalahan. Ia kemudian divonis penjara 12,5 tahun.

BACA JUGA: Sentimen Rasisme Saat Merebaknya Virus Corona, Ironis 

Soal Segregasi dan Paradox Minesotta

Hal lain yang menjadi faktor pemicu aksi unjuk rasa besar-di AS adalah soal praktik terselubung yang dinamakan :paradoks Minnesota”.

Ini terjadi dimana Minneapolis, ibu kota negara bagian Minnesota, merupakan area yang makmur dan mempraktikan kebijakan yang cukup demokratis. Tetapi, selama bertahun-tahun di sana terjadi segregasi dalam hal ekonomi antara warga kulit putih dan hitam.

Mereka tinggal di area yang berbeda. Mayoritas warga kulit putih AS tinggal di Minneapolis. Sedangkan, warga kulit hitam sebagian besar bermukim di kota tetangganya yakni St Paul.

Aksi Unjuk Rasa di As
(Foto: Instagram)

Perpecahan sesungguhnya sudah terjadi sejak di awal abad 20 lalu. Ketika itu warga kulit hitam dilarang membeli rumah di beberapa area.

Bahkan, pada tahun 1960an, pemerintah negara bagian Minnesota membangun sebuah jalan tol lebar yang membabat habis pemukiman komunitas kulit hitam yang dikenal dengan nama Rondo di Kota St Paul.

BACA JUGA: Virus Corona dan Bangkitnya Fenomena Sinophobia

Menurut studi yang dilakukan pada 2018 lalu menunjukkan warga kulit hitam yang memiliki rumah di Kota St Paul tergolong rendah. Bahkan, sebelum terjadi pandemik COVID-19, jumlah warga kulit hitam yang kehilangan pekerjaan jauh lebih tinggi dibanding warga kulit putih.

Data menunjukkan 10 persen warga kulit hitam dipecat karena berbagai alasan. Sedangkan, warga kulit hitam yang dipecat hanya 4 persen.

Pada 2016 lalu, warga kulit putih bisa menghasilkan uang per tahunnya lebih banyak yakni sekitar US$76 ribu.

Bandingkan dengan warga kulit hitam yang per tahunnya hanya bisa menghasilkan US$32 ribu. Maka, tak heran di Kota St Paul, lebih banyak warga kulit hitam yang berada di bawah garis kemiskinan.

Hingga kini belum ada yang tahu kapan aksi unjuk rasa besar-besaran ini akan berakhir di AS.(Sbg/Rig)

Comments