Aksi Berani
(Foto: Instagram)

Sabigaju.com – Hingga kini netizen masih heboh membicarakan aksi berani  sejumlah pelajar SMK terlihat melakukan aksi demonstrasi di sekitar Gedung DPR, Senayan, Jakarta.

Berbagai video yang menunjukan Aksi berani saat  demo pelajar di depan gedung DPR bahkan viral.

Di Twitter-pun, siswa-siswa STM tersebut menjadi buah bibir. Beberapa cuitan warganet menilai sikap berani mereka. Warganet pun menilai bahwa aksi anak STM kali ini terlihat keren karena membela apa yang seharusnya mereka bela.

BACA JUGA: Seks dan Kontroversi RUU KUHP

Namun tak sedikit yang sinis terhadap aksi tersebut bahkan hingga melontarkan komentar nyinyir.

Terlepas dari itu semua timbul pertanyaan apa yang membuat para pelajar melakukan aksi  berani saat demo seperti itu?

Selain upaya reformasi dan kebebasan berekspresi menyuarakan pendapat. Pisau bedah psikologi sosial, jawabannya adalah Konformitas.

BACA JUGA: Berkomunitas Sejak Dini untuk Berantas Korupsi

Konformitas dan Demonstrasi

Konformitas saat demonstrasi adalah menampilkan suatu tindakan ataupun perilaku karena orang lain juga melakukannya.

Nah saat konformitas dilakukan oleh individu yang melakukan demonstrasi, individu tersebut mengalami tekanan konformitas yang sulit untuk ditolak.

Faktor utama dalam konformitas adalah kohesivitas, dimana individu menerima pengaruh dari kelompok yang mereka sukai atau dekat dengan mereka.

Ketika ketertarikan individu terhadap suatu kelompok tinggi, maka tekanan untuk melakukan konformitas akan bertambah besar. Ketika kita ingin disukai oleh orang lain, kita akan melakukan hal mereka senangi, bukan?

BACA JUGA: Menguak Sisi Psikologis Dibalik Aksi Demonstrasi

Konformitas meningkat seiring dengan bertambahnya anggota kelompok, bahkan kita akan setuju melakukan suatu hal meskipun hal itu berbeda dari apa yang kita inginkan!

Dan, konformitas bisa membuat seseorang mendadak agresif, keberanian yang belum tentu dimiliki saat ia sendiri. Bahkan keagresifan seseorang bisa semakin parah ketika memperoleh dukungan moral yang membenarkan tindakan mereka.

yang perlu disadari Seringnya melakukan konformitas, akan membuat seseorang kehilangan individualitas dan kebutuhan mempertahankan kontrol atas hidupnya.

Ingat! Demonstrasi merupakan hak setiap individu dalam mengungkapkan pendapat, apalagi bila dilakukan dengan bijaksana dan atas analisa yang matang akan suatu permasalahan. Jadi, masih mau melakukan konformitas dalam berdemonstrasi? (Sbg/Rig)

Comments