Maskulinitas
Salah satu toxic maskulinitas yang harus didetoks adalah pemikiran kalau maskulin identik dengan kekerasaan . (Foto: Pixabay)

Sabigaju.com – Narasi bahwa maskulinitas itu identik dengan kekerasan, dianggap sebagai laku garis hidup kaum lelaki telah terinternalisasi sejak kecil oleh lingkungan kita yang patriarki.

Lantaran itu, kita sering melihat praktik kekerasan  terjadi di tingkat anak-anak sekalipun, apalagi ketika media ikut mengkonstruksikan penafsiran demikian lewat penokohan-penokohan film dan fiksi yang sangat sarat dengan kekerasan.

Kekerasan yang begitu mudah kita dengar, lihat, dan bahkan mungkin saksikan sendiri akhir-akhir ini seperti memutar 180 derajat muka bangsa kita, dari bangsa ramah menjadi bangsa pemarah.

Apakah maskulinitas akan terus hadir lewat kekerasan? Apakah kekerasan memang tidak bisa dipisahkan dari sisi maskulin? Atau jika bisa, bagaimanakah caranya?

BACA JUGA :

 

Kekerasan Buah dari Toxic Maskulinitas

Toxic maskulinitas adalah sebuah faktor kontribusi yang signifikan dalam kekerasan laki-laki. Memang, kekerasan pria terhadap wanita dan kekerasan pria terhadap pria lain saling terkait, dan keduanya dibentuk oleh toxic maskulinitas.

Gagasan maskulinitas yang didefinisikan secara sempit mengusik tak hanya perempuan, tapi juga laki-laki.

Kekerasan bagi laki-laki adalah salah satu cara yang harus dilakukan untuk menunjukkan kuasa serta menjaga sisi maskulin mereka. Kekerasan lantas menjadi tindakan yang bersifat preventif.

Di jalanan, seorang laki-laki harus mempertahankan sisi maskulin mereka dari rongrongan laki-laki lain. Sementara di rumah, mereka mempertahankannya agar tidak jatuh dan direbut oleh istri atau perempuan atau anak-anak mereka dalam sebuah keluarga.

Mengakhiri Kekerasan

Kita butuh banyak  kaum pria sejati yang tidak lagi mengedepankan kekerasan sebagai penyelesaian.

Seorang pria masa kini seharusnya bisa lebih pengertian dan rasional dalam menghadapi masalah bukan dengan emosi dan menyelesaikannya dengan jalan kekerasan. Karena secara alamiah, pria bekerja berdasarkan rasionalitas

Untuk itu kita perlu lebih banyak lagi melibatkan wacana untuk laki-laki dan anak laki-laki dalam percakapan kritis tentang kedewasaan, mendorong mereka untuk merangkul identitas mereka sendiri daripada menyesuaikan dengan skrip toxic maskulin yang dibatasi.

Apakah kita menyebutnya dengan detoks maskulin atau sesuatu yang lain, yang jelas kita perlu mempromosikan cita-cita untuk kehidupan anak laki-laki dan laki-laki yang positif, beragam, dan adil.

Jadi sebagai pria, kamu tidak usah berbuat kekerasan untuk menjadi lebih maskulin yah! Setuju. (Sbg/Rig)

Comments