Kasus Narkoba
Demi membongkar kasus narkoba yang menjangkiti negaranya, kepolisian Cina berupaya memberantasnya dengan memetakan kawasan para bandar narkoba melalui air seni dan kotoran yang berada di saluran pembuangan. (Foto: 4045/Freepik)

Sabigaju.com – Menggunakan teknik menyamar untuk membongkar kasus narkoba memang menjadi andalan para aparat kepolisian. Cara lama ini memang sudah bukan rahasia lagi dan paling sering diandalkan, termasuk di Indonesia.

Namun, baru-baru ini kepolisian Cina mencoba terobosan baru untuk membongkar kasus narkoba. Cara tersebut dikenal dengan metode epidemiologi berbasis air limbah atau WBE. Dengan menggunakan metode tersebut, polisi akan mengetahu efek konsumsi narkoba yang tersimpan dalam sekresi.

Metode WBE tersebut sejak awal memang sudah dirancang untuk mengurai dan menandai kandungan hasil sekresi manusia baik dalam bentuk kotoran, urin, hingga keringat.

BACA JUGA: ‘Berhenti Jadi Artis’ Sanksi Buat Artis yang Gunakan Narkoba

Konsumsi narkoba walau hanya sedikit tetap akan terdeteksi dalam hasil sekresi tubuh. Oleh karena itu, dengan menggunakan variabel bahan kimia tertentu maka kandungan dalam urin dan kotoran manusia tersebut tetap akan terdeteksi sekalipun kotoran tersebut sudah berakhir di selokan.

Saat ini, polisi yang mengandalkan pengamatan pada sisa urin dan kotoran manusia dalam saluran pembuangan sudah banyak. Dari situ, selanjutnya tim menganalisisnya dan memantau apakah ada tanda-tanda konsumsi narkoba dari pembuangan tersebut atau tidak.

Dilansir dari Jurnal Nature, sudah puluhan kepolisian di negara Cina yang menggunakan metode epidemiologi tersebut untuk membongkar kasus narkoba.

Pembongkaran kasus narkoba dengan metode WBE atau dikenal juga dengan istilah Biomonitoring ini disinyalir masih akan terus dilakukan oleh kepolisian Cina. Perang dengan narkoba tersebut juga menjadi komitmen pemerintah Cinta.

Pasalnya, Presiden Xi Jinping berpidato dan sempat bersumpah akan menangkap lebih banyak pengedar dan produsen narkoba di Cina. Pernyataan tersebut sempat diberitakan oleh kantor berita Xinhua. Dana sebanyak 10 juta Yuan atau setara 21,5 miliar sudah dikucurkan oleh pemerintah pusat di Beijing. Dana tersebut merupakan bukti dukungan bahwa pemerintah mendukung Biomonitoring untuk memberantas narkoba.

Meski demikian, sebagian ilmuwan mengkritik pemanfaatkan Biomonitoring untuk mengungkap kasus narkoba tersebut. Pasalnya, kemungkinan salah deteksi kandungan dalam urin dan atau kotoran manusia masing bisa terjadi karena alasan-alasan tertentu. Apalagi jejak bahan kimia yang ditemukan dalam urin atau fesese tidak langsung dari konsumsi narkoba.

BACA JUGA: Roro Fitria: Kasus Prostitusi, Ritual Mistis Hingga Jerat Narkoba

Di tengah situasi pro dan kontra tersebut, sejauh ini kepolisian Cina sudah tercatat berhasil membekuk satu bandar narkoba yang terdeteksi melalui Biomonitoring.

Semua berawal dari bukti akurat dari uji kimia yang mengandung narkoba jenis tertentu yang didapat kepolisian setelah memantau isi selokan Zhongshan di Provinsi Guangdong. Bukti tersebut telah dikantongi polisi dan selanjutnya merekan melacak siapa saja produsen yang mampu menghasilkan bahan kimia tersebut.

Kalau menurut Sobat Sabi, metode Biomonitoring ini memang efektif diterapkan untuk memberantas narkoba tidak sih? (Sbg/Erny)

Comments