Sinetron Azab
Mematikan TV kini menjadi pilihan bagi banyak orang ketimbang menyaksikan Sinetron Azab karena dianggap tidak mendidik. (Foto atoz.com)

Sabigaju.com – Belakangan ini warganet melalui media sosial mengungkapkan keprihatinan dan kekesalan mereka terkait banyaknya sinetron azab yang menceritakan tentang akibat dari kesalahan yang dilakukan manusia di dunia.

Sejumlah postingan diunggah di Twitter atau Instagram. Mulai dari kisah jenazah terhantam sejumlah tabung gas, jenazah terempas dan masuk gilingan molen, tercebur sungai lalu hanyut, liang kubur kejatuhan meteor, dan lain sebagainya, menjadi bahan lelucon netizen.

Sinema Religi tentang azab-azab ini belakangan sangat populer untuk ditertawakan. Tentu saja karena judulnya, bukan karena cerita atau kejadiannya yang beberapa diangkat dari kisah nyata.

Judul sinetron azab tidak mendidik

Judul-judul sinetron lepas Indosiar ini sempat jadi olok-olok di media sosial. Namun, seiring waktu, olok-olok itu mereda digantikan olok-olok dan meme lain.

Sinetron jenis ini malah makin kencang popularitasnya, diputar dari pagi hingga malam dan diekori stasiun TV lain. Lantas, kenapa bisa sinetron jenis ini bisa menjadi tontonan favorit orang banyak?

Sekilas judul tersebut membuat kita tertawa namun demikian bukankah kejadian yang digambarkan dalam judul tersebut terkesan sadis.

Padahal isinya semuanya sama, kisah seseorang yang berbuat jahat ataupun durhaka pada orang lain yang kemudian taubat setelah diazab Tuhan. Selain itu, para pemainnya juga keseringan itu-itu saja. Begitu pula soundtrack-nya.

Bukan Pertama Kali

Sebetulnya, bukan kali ini wajah pertelevisian kita diisi sinetron berbau religi berisi azab akibat perbuatan zalim. Pada pertengahan 2000-an ramai tren sinetron religi yang dimulai oleh Rahasia Ilahi ditayangkan oleh TPI yang kini berganti nama menjadi MNCTV .

BACA JUGA:

Sebuah penelitian mencatat, pada 2005-2007 tercatat 44 judul sinetron berjenis ini. Selain itu TPI juga pernah menayangkan Takdir Ilahi (TPI). Sementara SCTV pernah menayangkan series Astagfirullah dan Kuasa Ilahi (SCTV) dan RCTI pun menayangkan Pintu Hidayah.

Nah, jauh sebelum merambah ke TV, cerita layaknya sinetron religi dimulai oleh penerbitan majalah Hidayah yang booming di sekitar masa itu. Apakah niatan sinetron-sinetron religi dari dulu hingga sekarang demi unsur dakwah atau kepentingan komersil?

Mengutip Kuntowijoyo, masyarakat kita terbagi dalam tiga fase yang berjalan bersamaan yakni, mitis, ideologis, dan ilmu. Mistis adalah kepercayaan pada keajaiban atau kekuatan alam.

Pada masyarakat yang lapis terendah, akhirnya hanya berharap ada kekuatan mistis yang menolong mereka, yaitu hukuman dari yang gaib, entah Tuhan atau dihukum karena karma.

Apa pilihan agar tetap waras?

Kisah-kisah dalam sinetron azab hingga kini terus mendapat kritik karena dianggap menyajikan tayangan tidak logis, yang tidak memiliki nilai edukasi. Dalam tayangan sinetron itu, Tuhan digambarkan sebagai juru azab dan agama sebagai sesuatu yang mengerikan.

Jika sinetron bertema azab itu terus dibiarkan, dampaknya secara tidak langsung bisa membuat orang dengan mudah mengutuk pihak lain di samping membuat orang salah sangka dengan agama.

Padahal Tuhan adalah Maha Pengampun dan agama adalah tuntunan. Adalah waras bagi kita untuk memilih untuk tidak menyaksikan ketidakwajaran di televisi. Ayo matikan TV-mu! (Sbg/Rig)

Comments