Brand fashion ternama
Sejumlah brand fashion ternama harus berurusan di pengadilan lantaran dituding melakukan pelanggaran terhadap hak cipta. (Foto: Pixabay)

Sabigaju.com – Tahun 2019 baru berjalan empat hari namun dunia fashion sudah ramai dengan segala hiruk pikuk kegiatan yang dilakukan  berbagai  brand fashion ternama

Tak hanya fokus dengan berbagai persiapan trend musim dingin saat ini dan musim panas mendatang, sejumlah brand fashion ternama kini bersiap menghadapi gugatan hak cipta di pengadilan lantaran tudingan serius plagiat.

Berikut adalah tiga kasus pilihan yang menyangkut brand fashion ternama dan akan bergulir di Pengadilan dalam waktu dekat.

BACA JUGA

1. Nirvana Gugat Marc Jacobs

Grup musik legendaris Nirvana menggugat brand fashion ternama Marc Jacobs International karena dianggap menggunakan logo senyum Nirvana yang telah dipatenkan.

Dilansir dari Forbes. Dalam gugatan dijelaskan bahwa personel Nirvana mendiang Kurt Cobain membuat logo ikonik tersebut pada 1991. Nirvana juga telah mematenkan desainnya untuk digunakan seterusnya sejak 1992 untuk mengidentifikasi musik mereka.

Brand fashion ternama
(Foto: Instagram marcjacobs)

Gugatan diajukan karena mereka merasa logo tersebut sudah menjadi simbol dan diasosiasikan dengan Nirvana.

Pada November 2018, brand fashion ternama Marc Jacobs meluncurkan koleksi Redux Grunge Collection sekaligus merayakan kerja sama Jacobs bersama Perry Ellis pada 1993.

Beberapa item seperti kaos dan sweater “Bootleg Redux Grunge” menggunakan logo senyum ikonik khas Nirvana tersebut dengan tulisan “Heaven (Surga)” pada bagian atas logo.

Komplain Nirvana juga menyinggung bahwa Marc Jacobs juga telah menggunakan lirik dari salah satu lagu Nirvana dalam sebuah iklan dan mengunggah meme di laman resmi Tumblr Marc Jacobs dengan klip lagu “Smells Like Teen Spirit”. Salah satu iklan bahkan menampilkan Jacobs menggunakan kaos tersebut di atas kalimat “Come As You are”, judul lagu Nirvana yang hit pada 1992.

Nirvana menilai kelakuan Marc Jacobs adalah sesuatu yang menindas, curang dan jahat. Membuat rasa sakit mereka merasa sulit terobati.

Hal itu juga dianggap mengancam nilai-nilai lisensi Nirvana dengan lisensi produk pakaian. Band asal Aberdeen, Washington itu kini sedang berupaya meminta ganti rugi dan ganti rugi moneter melalui pengadilan distrik Amerika Serikat untuk Distrik Kalifornia Pusat.

2. Vans Gugat Primark

Jika sebelumnya Vans menggugat Target, kini giliran brand fashion ternama Primark yang mendapat surat serupa.

Dilansir dari The Sun, pengecer fast-fashion yang berasal dari Irlandia itu disebut-sebut menjual sneakers yang mirip Old Skool di UK sejak 2017.

Vans diduga sudah menghubungi Primark dan memintanya untuk berhenti menjual sneakers tersebut.

Brand fashion ternama
Perbandingan antara sepatu Primark dengan sepatu Vans

Mereka pun percaya masalah tersebut sudah terselesaikan. Namun, Vans mendapati temuan bahwa Primark kembali melakukannya, dengan menjual sneakers tiruan tersebut di Amerika Serikat.

Oleh karenanya, Vans mengajukan gugatan dengan tudingan pelanggaran merk dagang, persaingan tidak adil, dan iklan palsu di pengadilan federal New York pada awal Desember 2018.

Vans menuding Primark menjiplak dua desain siluet sneakersnya–Old Skool seharga 55 poundsterling dan Sk8-Hi seharga 65 poundsterling.

Keduanya memiliki merek dagang “side stripe”, yang telah menjadi ciri khas Vans sejak tahun 1970-an, dan waffle-patterned bottom, yang diadaptasi Primark untuk desainnya sendiri.

3.  Perusahaan Mainan Gugat Louis Vuitton

Perusahaan mainan California MGA Entertaintment menggugat brand fashion ternama Louis Vuitton untuk berhenti mengganggu penjualan tas mainan Pooey Puitton.

Dilansir dari laman Business of Fashion, dalam gugatan yang diajukan di pengadilan federal Los Angeles, MGA Entertainment Inc mengatakan, konsumen tidak akan berpikir Pooey Puitton yang dijual seharga 59,99 dollar AS mirip dengan Louis Vuitton.

Brand fashion ternama
Perbandingan antara Pooey Puitton dengan Louis Vuitton(Foto By designboom.com)

MGA menyebut Pooey Puitton dilindungi oleh parodi, yang dirancang untuk mengejek, mengkritik, dan mengolok-olok kekayaan dan selebriti yang terkait dengan Louis Vuitton.

Ada pun MGA dengan tegas menolak klaim pelanggaran merk dagang yang disampaikan Louis Vuitton.

“Penggunaan nama Pooey dan produk Pooey dalam hubungannya dengan lini produk ‘magical unicorn poop’ dimaksudkan untuk mengkritik atau mengomentari orang kaya dan terkenal, nama Louis Vuitton, merek LV dan mereka yang konsumtif,” tulis MGA dalam gugatan.

Comments