Sabigaju.com – Dokter Terawan mendadak jadi sorotan karena iklan yang ia muat. Iklan itu mampu meyakinkan publik bahwa terapi yang ia lakukan, yakni terapi cuci otak, bisa menyembuhkan pasien dengan sumbatan darah di otaknya dan mencegahnya dari serangan serupa.

Namun, apa yang dilakukan Terawan ini menuai kontroversi. Seperti diwartakan Merdeka (5/4), ia dinilai berlebihan dalam mengiklankan praktiknya tersebut dan mengklaim suatu praktik yang belum teruji kebenarannya.  Terawan juga diduga mematok tarif tinggi untuk praktik itu. Tak tanggung-tanggung, pria yang lalu menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto Mayjen TNI ini akhirnya dipecat oleh IDI karena melanggar beberapa nilai dalam kode etik kedokteran.

Seperti dilansir Kompas (5/4), Dokter Terawan menggunakan heparin dan Digital Substracion Angiography (DSA) sebagai alat untuk praktiknya. Ia memasukkan obat heparin ke pembuluh darah penderita stroke. Proses yang disebut dengan trombolisis dalam dunia kedokteran ini memiliki prosedur batas waktu ketat.

Trombolisis dapat diberikan hingga 8 jam setelah pasien terkena stroke. Namun jika terapi itu diberikan kepada pasien yang serangannya sudah lebih dari 8 jam, maka terapi ini dinilai bisa menimbulkan masalah.

Dikutip Tempo (5/4), cairan heparin memang dikenal sebagai antikoagulan (anti-pembekuan darah), agen anti-inflamasi, dan antioksidan. Dengan sifatnya yang demikian, Terawan hendak membersihkan saluran gorong-gorong yang tersumbat akibat stroke. Dengan metode ini, pembuluh darah diklaim bisa dibersihkan dan bekerja kembali dengan normal.

Lalu apa kata para ahli lainnya?

Pertentangan datang dari banyak ahli staf. Menurut Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI), Hasan Machfoed, heparin tidak bisa digunakan sebagai terapi stroke. Obat ini hanya bisa digunakan untuk mencegah pembekuan darah selama tindakan yang menjadi dasar prosedur pencucian otak tersebut. Obat yang bisa digunakan untuk menghancurkan clot atau pembekuan darah adalah r-TPA.

Lebih lanjut Hasan menjelaskan bahwa DSA yang digunakan Dokter Terawan untuk terapi sebetulnya adalah alat diagnostik semata, layaknya alats rontgen. Menurut Dokter Spesialis Saraf Fritz Sumantri Usman, dunia internasional pun hanya mengakui DSA sebagai alat diagnostik, bukan sebagai alat terapis, pencegahan maupun pengobatan.

Melalui DSA, kelainan pembuluh darah di otak bisa diketahui. Setelah itu, barulah pasien bisa diberi terapi atau pengobatan yang sesuai. Itupun tak bisa dilakukan pada sembarang orang, hanya pada pasien yang sudah terkena serangan berulang atau serangan stroke dengan faktor risiko tertentu.

Tentang aturan yang dilanggar

Kembali dikutip Kompas (5/4), Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan bahwa memang inovasi di bidang kedokteran memang harus dibuktikan lewat metodologi penelitian. Dokter Terawan, dalam hal ini Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Prijo Sidipratomo mengatakan bahwa Dokter Terawan telah melanggar Kode Etik Kedokteran Indonesia (Kodeki).

Pada pasal empat tertulis, “Seorang dokter wajib menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri.” Namun Menkes Nila Moeloek meminta kepada pihak IDI untuk segera menyelesaikan kasus ini secara internal agar tidak menimbulkan kegaduhan. (sbg/Dinda)

Comments