Toxic Masculinity
Toxic masculinity adalah sebuah tugas besar di era keseteraan gender seperti sekarang ini. (Grafis: Sabigaju/Sigit Sulistyo

Sabigaju.com – Membahas soal toxic masculinity, rasanya emang enggak ada habis-habisnya. Persoalan ini memang sedang ramai dialami oleh pria masa kini. Terlebih usai mencuatnya isu feminisme yang membahas LGBT (lesbian, gay, bisexual, transgender).

LGBT menuai pro dan kontra. Untuk negara yang mayoritas umat beragama seperti kita, LGBT secara luas ditolak karena dianggap bertentangan dengan agama.

Tak hanya dari agama, orang-orang yang menjunjung tinggi martabat pria maskulin juga secara terang-terangan menolaknya.

BACA JUGA: Kenali Toxic Employee, Karyawan Beracun yang Bikin Kantor Jadi Runyam 

Toxic Masculinity dan Kesetaraan Gender

Pria “cengeng”, gemar dengan aktivitas girly, serta bergaya feminim dianggap bagian dari LGBT. Mereka ditolak.

Pada akhirnya, banyak pria yang tak ingin disebut cengeng, berperilaku dan bergaya feminin hanya karena ingin diterima.

Padahal, toxic masculinity adalah sebuah tugas besar di era keseteraan gender seperti sekarang ini.

Persoalan yang sudah lama lekat dalam budaya patriarki ini mulai diperangi. Bisa? Tentu bisa. Bukan dari wanita, yang memang notabene sebagai penggagas feminisme, tapi dari prialah yang semestinya memulai gerakan ini.

Kalau kamu adalah bagian dari yang ingin mulai memerangi, maka ini yang bisa kamu lakukan.

BACA JUGA: Detoks Maskulinitas Buat Sikap Cuek Cowok 

Speak up

Bisa diawali dengan speak up alias bersuara. Kamu bisa menyuarakan bahwa pria juga manusia dan orang lain harus menganggapnya seperti itu. Kita memiliki emosi, bisa lemah, punya kemauan yang tak terbendung, serta ingin didengar. Karena itu semua bukan berarti kita lemah, tapi karena kita juga manusia.

Jangan biarkan juga racun itu menyebar. Pahami bahwa ini adalah kondisi sosial, bukan sesuatu yang sudah terberi pada pria. Suarakan dari lingkungan terdekat dulu, lalu kemudian pada khalayak. Lalu dilanjutkan pada beberapa aksi kecil.

BACA JUGA: Hai Pria, Menangis Bukan Berarti Kamu Cengeng

Jangan Ajari Anak Laki Tak Boleh menangis

Jika memang generasi sekarang dan terdahulu sudah begitu sulit kita ubah, saatnya kita mempersiapkan generasi mendatang.

Kamu bisa mulai mengajari anak laki-laki, dari anak sendiri atau orang lain, untuk tidak perlu memendam perasaannya.

Tidak perlu denial jika mereka merasa sedih dan tidak perlu malu untuk menunjukannya. Walau begitu, kamu tetap harus mengajarinya meregulasi emosi ya. Jangan sampai mereka malah marah-marah di depan umum.

Ajari Anak Soal Toxic Masculinity

Ajari pula pada anak apa itu toxic masculinity. Ini perlu untuk diri mereka sendiri dan untuk menghadapi orang lain.

Kamu juga perlu menjadi role model bagi mereka. Ceritakan pada mereka seperti apa kamu dan apa yang kamu pikirkan.

BACA JUGA: Waspada Aksi Toxic Family Saat Berkumpul dengan Keluarga

Normalisasi Padangan Soal Pria Lain

Kamu harus memulainya dengan normalisasi pandangan soal apa dan bagaimana pria lain. Tak perlu merasa risih dan heran ketika melihat ada pria yang sedikit berbeda dengan kamu atau dengan standar yang sering kamu dengar.

Be open to them. Jangan menghakimi dan menghukum pula.

Toxic masculinity ini tak cuma wanita yang melakukan, tapi juga pria. Padahal nantinya, kamu sendiri yang akan merasa kesulitan jika racun ini terus menyebar di antara kondisi sosial lingkungan kamu. Jadi kalau bukan kamu yang memulai, siapa lagi? (Sbg/Dinda)

Comments