Film Sexy Killers
Netizen dan masyarakat kini tengah heboh membicarakan sebuah film dokumenter berjudul Sexy Killers yang diunggah di Youtube belum lama ini. (Foto: WatchDoc)

Sabigaju.com – Netizen dan masyarakat kini tengah heboh membicarakan  film Sexy Killers yang diunggah di laman berbagi video, YouTube belum lama ini.

Sambutan publik rupanya luar biasa karena video tersebut sudah ditonton lebih dari 5,6 juta viewers.

Pantauan Sabigaju film dokumenter produksi Watchdoc ini juga mendapatkan 398 ribu like meski juga mendapatkan oleh 4 ribu lebih unlike.

Lantas apa yang membuat film ini heboh dan dinilai begitu banyak netizen layak untuk ditonton?

BACA JUGA: Jangan Lewatkan Sederet Film yang Bisa Memotivasi Karirmu 

Dibalik Masifnya Pembangunan

Film Sexy Killers merupakan film dokumenter besutan dua jurnalis Dandy Dwi Laksono dan Ucok Suparta, setahun mengelilingi Indonesia sejak 1 Januari-Desember 2015.

Film yang rilis jelang Pemilu 2019 ini merupakan film produksi Watchdoc ke-12, lanjutan dari film-film sebelumnya seperti Samin vs Semen (2015), Kala Benoa (2015), The Mahuzes (2015) dan Asimetris (2018).

Film Sexy Killers menghadirkan sisi lain dari pembangunan infrastruktur yang begitu masif pada rezim Joko Widodo – Jusuf Kalla.

Di balik banyak pembangunan PLTU batubara, terdapat korban-korban dari kalangan petani, nelayan, dan kelompok rentan lain.

Film Sexy Killers menampilkan adanya keterlibatan para pejabat dan purnawirawan di sektor pertambangan batubara dan perkebunan kelapa sawit.

Mereka terlibat secara aktif sebagai direksi, komisaris, pemilik saham dan sebagainya. Keterlibatan para pejabat ini secara tidak langsung menjadi alasan mengapa pemerintah seakan tidak menunjukkan komitmen yang kuat.

BACA JUGA: Film Triple Threat: Adu Jotos Asia vs Non-Asia! 

Dampak Exploitasi Batubara

Film Sexy Killers mengisahkan rantai di balik produksi listrik yang digalakkan sebagai salah satu proyek strategis nasional.

Rantai itu mulai dari tambang batu bara, proses pengangkutan, hingga proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan segala dampak lingkungan yang harus ditanggung oleh masyarakat.

Selain kondisi alam yang rusak akibat penambangan dan masyarakat yang terdampak tambang batu bara hingga proyek PLTU, film ini juga menunjukkan siapa saja yang memiliki saham perusahaan-perusahaan tambang.

BACA JUGA: Aksi Laga Super Mahal di Film Foxtrot Six 

Di situ, ditunjukkan perusahaan-perusahaan atau grup yang sebagian sahamnya dimiliki sejumlah tokoh elite politik, baik menteri maupun orang-orang yang terkait dengan pasangan capres-cawapres di Pilpres 2019.

WatchDoc dengan apik menyusun narasi bagaimana sumber energi itu menjadi hal yang menyengsarakan bagi warga, terutama kelompok miskin dan perdesaan.

Dari Kalimantan, puluhan ribu ton batubara mengalir –terutama ke Jawa dan Bali, dua pulau paling banyak mengonsumsi energi. Mereka melewati jalur sungai, laut, sebelum tiba di lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan sumber energi batubara.

BACA JUGA: Liburan Impian Berubah Full Chaos dan Berdarah di Film Us

Memakan Nyawa

Tak hanya itu Film Sexy Killer juga menyorot lubang-lubang bekas tambang yang ditinggalkan kini juga meminta tumbal.

Menurut Sexy Killers, pada kurun 2011 – 2018 ada 32 orang mati tenggelam di bekas lubang tambang di Kaltim. Secara nasional pada kurun 2014-2018 terdapat 115 orang mati.

Di tempat lain, asap PLTU batubara itu bahkan telah merenggut nyawa warga sekitar, seperti di Palu, Sulawesi Tengah.

Film Sexy Killers menghadirkan getir tangis para korban di balik gemerlap lampu yang dinikmati kita  sehari-hari. (Sbg/Rig)

Comments