Rasa Sombong
Hingga kini banyak orang yang masih belum bisa membedakan antara sikap bangga dan rasa sombong. (Foto: Business2community)

Sabigaju.com – Dalam pergaulan di dunia nyata ataupun di berbagai media sosial, seperti Facebook, Twitter maupun Instagram, mungkin kamu pernah melihat seseorang yang selalu ngomongin kesuksesannya melulu.  Oops inikah  dorongan dari rasa sombong?

Mungkin,bagi sebagian orang hal demikian dianggap sebagai perbuatan yang didorong rasa sombong. Namun bagi orang yang melakukan, hal demikian hanyalah sebuah ekspresi kebanggaan dari apa yang telah ia capai.

Yup, rasa sombong dan bangga merupakan kondisi yang hanya dipisahkan oleh garis tipis. Nah Sabigaju mau kasih info buat kamu semua untuk membedakannya.

BACA JUGA: Hadapi Senioritas dengan Profesionalitas 

Beda kelas antara  Bangga dan Rasa Sombong

Menurut Psikolog Guy Winch, Ph.D, rasa bangga bisa terbagi dua. Yakni kebanggaan sejati dan kebanggaan terselubung.

Sebuah kebanggaan sejati muncul ketika kita merasa baik tentang diri sendiri, cukup percaya diri, dan produktif. Ini berhubungan dengan ciri-ciri kepribadian sosial yang adaptif dan positif seperti bersikap ramah, murah hati, teliti, tekun dan bekerja keras, serta stabil secara emosional.

Nah, kalau  kebanggaan terselubung itu gaes,  cenderung berfokus pada pencapaian dominasi—alih-alih gengsi– seperti arogansi, intimidasi, agresi dan permusuhan, pun berhubungan dengan sifat-sifat antisosial seperti terlihat menyebalkan, memiliki harga diri rendah, serta rentan merasa malu.

Hm, sebuah perbedaan yang gag tipis. Alias jelas banget bedanya

BACA JUGA: Bergosip di Kantor, Pantang Ikutan Men! Begini Cara Menangkalnya

Ragam Rasa Sombong yang Tidak Disadari

Meskipun sama-sama mendapatkan kesuksesan, namun biasanya orang bangga mengekspresikannya dengan cara yang elegan dan tidak berlebihan.

Sebaliknya, orang yang memiliki rasa sombong cenderung mengekspresikannya dengan cara yang berlebihan.

Rasa sombong yang paling banyak menjangkit adalah sombongnya orang bodoh merasa pintar—disebut sombong intelektual.

Tidak sedikit juga kita temui kesombongan orang miskin sok kaya—yang kita sebut sombong materi, ada pula rasa sombong merasa paling ganteng atau cantik—kita sebut rasa sombong akan penampilan, serta merasa sebagai orang terpenting di lingkungannya, pokoke kaya raja deh dia padahal mah rakyat jelata juga.

Bahkan, kata psikolog kepribadian, Arash Emamzadeh dari University of British Columbia di Kanada, AS, kebanggaan terselubung juga terkait dengan narsisme.

BACA JUGA: Prestasi Membanggakan Anak Bangsa

Sombong Upaya Salah untuk Melindungi Ego

Dalam hal mencapai tujuan sosial, para ahli setuju bahwa rasa bangga dalam jenis apapun terkait erat dengan harga diri.

Mereka yang berusaha meningkatkan harga dirinya, sebetulnya sedang membangkitkan rasa bangga sejati ketimbang kebanggaan terselubung. Dengan kata lain, mereka ingin tampil lebih percaya diri tanpa bermaksud  menunjukan rasa sombong.

Namun demikian, seperti  disebutkan laman Psychmechanics, ada kalanya orang bisa mendadak sombong, meskipun sama sekali tidak bermaksud demikian.

Alasan utamanya, adalah sebagai mekanisme pertahanan untuk melindungi ego dan harga diri, atau menyembunyikan rasa tidak aman, rendah diri dan kurang percaya diri. Alasan lain yaitu sebagai cara untuk mendapat perhatian.

Jadi, ketika tidak ada cara lain mendapat perhatian, seseorang bersikap arogan. Perilaku ini mungkin berhenti setelah ia mendapat cukup perhatian.

Begitu pula, ketika seseorang merasa tidak aman dan takut ditolak orang lain, ia bisa saja bersikap arogan untuk menunjukkan penolakan lebih dulu sebelum ketakutannya terjadi.

Contoh paling umum dari hal itu adalah saat seseorang bersikap seolah-olah tidak peduli, dengan cuek atau memperlihatkan ekspresi cemberut, sampai sering  nge-gas kalau berkomentar .

Sampai sini coba cek diri kamu, patut bangga apa sebenarnya sombong? (Sbg/Rig)

Comments