Debat Politik
Jelang berlangsungnya Pemilu 2019, salah satu hal yang sering kita saksikan adalah banyaknya debat politik dengan tensi panas yang dilakukan para pendukung masing masing capres di media sosial. (Sumber: Fil Dunsky)

Sabigaju.com – Jelang Pemilu 2019, salah satu hal yang sering kita melihat debat politik dengan tensi panas yang dilakukan para pendukung masing masing capres di media sosial.

Debat politik para pendukung bahkan bisa dibilang lebih panas daripada yang dilakukan oleh Capres dan Cawapres yang disiarkan oleh televisi nasional.

Nah, ada dua kubu yang kerap berdebat berbagai hal terkait politik di media sosial. –Kedua kubu tersebut memiliki nama panggilan yang tak sedap  didengar penyebutannya.

Kedua kubu itu adalah cebong dan kampret. Cebong berasal dari kata kecebong sebutan untuk pendukung pemerintah. Sementara satu lagi dikenal dengan sebutan kampret, bahasa lain dari kelelawar, ejekan buat kubu oposisi.

Maka, ada begitu banyak pertengkaran digital terjadi lantaran salah satu kubu merasa tersinggung dengan komentar atau status terkait pandangan politik kubu lain di media sosial.

Sebenarnya, berguna gag sih debat politik di media sosial?

BACA JUGA:

 

Membuang-buang Waktu

Di tengah padatnya kegiatan yang harus kita lakukan, bila waktu yang sangat berharga malah kita gunakan untuk berdebat urusan politik maka kita akan rugi.

Sebab biasanya waktu akan habis untuk berdebat kusir yang terkadang tidak ada ujungnya. Akan lebih baik jika waktu  yang terbatas  digunakan sebagai hal berguna.

Maunya Terus Membalas

Biasanya debat yang politik yang terjadi media sosial itu mengeraskan hati seseorang, karena sering sakit hati dan berniat membalas.

Melakukan debat politik di media sosial berpotensi memerangkap kita dalam gelembung politik dan menjadikan kita kurang toleran dengan pandangan-pandangan yang berseberangan.

Menimbulkan Permusuhan

Para psikolog sosial sudah lama meyakini bahwa pendirian paling kuat adalah yang paling resisten terhadap persuasi. Itu artinya semakin kita menantang teman-teman Facebook yang mengesalkan kita, semakin kebal mereka jadinya.

Maka , kita mungkin akan lebih beruntung bila kita tak acuh saja.

Dan bukan tak mungkin , perdebatan di media sosial bisa berubah dengan cepat menjadi pertengkaran yang akhirnya malah memutus ikatan sosial alias bermusuhan.

Menghalangi Kita Melihat Kepribadian Orang Lain Secara Nyata

Terkadang debat politik malah memaksa kita memandang orang yang sikap politiknya berseberangan dengan kita secara kurang manusiawi.

Seringkali kita tidak bisa membedakan pendirian politik seseorang dengan kualitas personal seseorang yang mereka tunjukkan di dunia nyata.

Yup, berapa banyak teman kita yang membuat status politik menjengkelkan di media sosial. Padahal, orang tersebut adalah sosok pribadi yang hangat dan baik hati dalam kehidupan nyata.

Sekali lagi ini membuktikan media sosial sebagai tempat berbahaya bagi percakapan tentang politik,

Bakal jadi Ruang Kebencian? Jangan Dong!

Sosial media yang mestinya dijadikan ruang publik yang sehat dan bukan arena adu level kebencian atau pemujaan pada sosok politikus atau figur lain yang dianggap sempurna.

Jika kebencian dan pemujaan ini akan terus beranak-pinak dan menjadi standar penilaian bagaimana mengatur jalannya pemerintahan di masa depan. Tentu kita tidak mengharapkan hal ini terjadi.

So, yuk  kita hentikan kebiasaan debat politik di media sosial. (Sbg/Rig)

Comments