Berjalan kaki
Kebiasaan berjalan kaki ternyata dapat memengaruhi kesehatan kita di masa depan. (Foto: Pexels)

Sabigaju.com – Meski memiliki banyak manfaat, kebiasaan berjalan kaki adalah salah satu hal yang banyak di hindari orang.

Entah ingin tiba di tujuan lebih cepat, soal ketidak nyaman hingga sejuta alasan lain membuat begitu banyak orang memilih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang memulai kebiasaan jalan kaki.

Padahal bergerak aktif meski hanya berjalan kaki dapat menjadi prediksi masalah mobilitas di masa depan. Apa maksudnya?

Begini, jika seseorang memiliki ketidakmampuan mobilitas maka di masa depan ada kemungkinan bisa terserang, diabetes, obesitas, sakit lutut, dan kesulitan bernapas hingga gejala depresi. Berikut ulasannya,

BACA JUGA: Jalan Kaki Bisa Meredakan Stres

Studi Kebiasaan Berjalan Kaki

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of American Geriatrics Society menunjukkan, berjalan dengan kecepatan lambat sekalipun dapat memberikan manfaat.

Penelitian ini menemukan terbiasa jalan terlalu santai akan menunjukan indikasi tertentu di masa depan.

Studi yang dilakukan para peneliti dari University of Pittsburgh di Amerika Serikat menilai cara untuk mengukur tugas-tugas berjalan yang kompleks. Cara ini dilakukan untuk mempelajari lebih lanjut tentang perubahan awal dalam berjalan.

Nah, para peneliti menemukan kecepatan berjalan yang lambat di bawah kecepatan normal dan kondisi kompleks dikaitkan dengan risiko yang lebih besar untuk mengembangkan ketidakmampuan mobilitas.

BACA JUGA: Ragam Khasiat Tren Jalan Kaki Ala Nordic Walking

berjalan Kaki
(Foto: Unsplash)

Peserta yang dilaporkan memiliki ketidakmampuan mobilitas lebih cenderung perempuan, diabetes, obesitas, sakit lutut, dan kesulitan bernapas. Mereka juga memiliki lebih banyak gejala depresi.

Peneliti menganalisis informasi dari studi Penuaan dan Komposisi Tubuh Kesehatan yang melibatkan orang dewasa kulit hitam dan putih di AS dari 1997 hingga 1998.

Sebanyak 337 partisipan berusia 70 hingga 79 tahun dan tidak mengalami kesulitan berjalan seperempat mil atau mendaki 10 langkah tanpa istirahat.

Selama studi, para peserta berjalan di beberapa jalur yang berbeda. Mereka diberikan beberapa tantangan berbeda untuk mengukur kecepatan berjalan.

Mereka pun diuji kemampuan untuk mengatasi tugas-tugas mental dan fisik pada saat yang bersamaan.

Kemudian, peneliti menindaklanjuti peserta setiap enam bulan untuk melihat apakah memiliki kesulitan berjalan seperempat mil karena masalah kesehatan atau fisik.

Peserta melaporkan masalah mobilitas atau ketidakmampuan setiap tahun pada kunjungan langsung.

BACA JUGA: Ke Kantor Bakal Lebih Sehat Tanpa Kendaraan Pribadi

Berjalan Kaki
(Foto: pexels)

Pada tahap akhir di tahun kedelapan, lebih dari setengah dari peserta telah mengembangkan ketidakmampuan mobilitas. Ini berarti mereka tidak dapat berjalan seperempat mil.

Hampir 40 persen mengalami ketidakmampuan kronis yang berlangsung setidaknya dua tahun.

Dari hasil tersebut, peneliti menyimpulkan mengukur kecepatan berjalan yang sederhana mungkin cukup untuk mengetahui apakah individu berisiko terhadap masalah mobilitas di masa depan atau tidak.

Yuk, mulai membiasakan diri berjalan kaki biar di masa depan kita tidak sakit-sakitan lalu mati. (Sbg/Rig)

Comments