Penembakan Massal
Pihak kepolisian Selandia Baru berhasil menangkap Brenton Trrant Penembakan Massal saat berlangsung Shalat Jumat di sebuah Masjid di Selandia Baru. (Foto: Facebook)

Sabigaju.com – Duka mendalam kini tengah dirasakan begitu banyak orang akibat penembakan massal yang dilaporkan beberapa sat lalu yang terjadi di salah satu masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada hari ini Jumat (15/3) siang.

Dilansir New Zealand Herald, seorang pria bersenjata melepaskan serangkaian tembakan di dekat Masjid Al Noor di pusat Christchurch.

Beberapa  orang dikabarkan telah dibawa ke Rumah Sakit Christchurch akibat insiden itu, dua di antaranya mengalami luka serius.

BACA JUGA 

 

Sadis! Lakukan Penembakan dan disiarkan Secara Streaming

Polisi Selandia Baru dilaporkan telah menahan seorang terduga pelaku penembakan massal di  masjid di Christchurch, Selandia Baru.

Pelaku adalah seorang pria Australia bernama Brenton Tarrant, pria kulit putih berusia 28 tahun kelahiran Australia. yang telah menulis manifesto berisi ideologi ekstrem kanan yang anti-Islam dan anti-imigran.

Brenton Tarrant mengenakan baju warna hitam masuk ke dalam masjid Al Noor di pusat kota Christchurch sekitar jam 1.45 waktu setempat. Setelah itu terdengar puluhan kali tembakan. Orang-orang yang berada di dalam masjid berlari menyelamatkan diri.

Ironisnya Brenton Tarrant menayangkan secara langsung aksi biadab penembakan massal di masjid dan mengunggahnya di media sosial dan menyebarkan video itu ke Facebook. Brenton memberondong senjatanya ke arah masjid selama enam menit dan kembali ke mobilnya untuk mengambil amunisi lebih banyak sebelum melepaskan tembakan lagi.

Brenton Tarrant disebut aktif di media sosial. Dua hari sebelum melakukan aksi teror, ia mengunggah foto senjata laras panjang miliknya di media sosial.

Pelaku juga pernah mengunggah foto perlengkapan militer yang dia pakai dalam serangan itu dan sebuah majalah.

Belum ada Korban Warga Indonesia

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Arden menyatakan duka cita dan bersolidaritas dengan umat muslim di negaranya.

Dia mengaku belum punya data akurat soal pelaku, motif penembakan, serta jumlah korban. “Yang jelas tindakan pelaku tidak punya tempat di Selandia Baru.”

Ardern juga belum menyebut insiden ini sebagai terorisme atau kejahatan berbasis kebencian terhadap minoritas. “Untuk saat ini, saya menyebutnya sebagai kekerasan dalam skala yang tidak terbayangkan sebelumnya.”

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengungkapkan ada enam warga negara Indonesia (WNI) yang berada di lokasi saat penembakan massal tersebut .

Hal itu disampaikan Retno setelah berkomunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Selandia Baru.

Pihak KBRI Selandia Baru menyatakan telah memantau aksi penembakan massal tersebut. Hingga saat ini, KBRI mengatakan belum ada WNI yang menjadi korban jiwa dalam insiden tersebut.

Coreng Wajah Selandia Baru

Aksi biadab Brenton Tarrant telah mencoreng Selandia Baru dalam Kasus penembakan massal. Padahal Selandia Baru diketahui memang sangat jarang terjadi.

Selandia Baru membuat aturan ketat tentang penggunaan senjata dan membatasi penggunaan senapan semi otomatis sejak 1992 silam, dua tahun setelah seorang pria pengidap gangguan mental menembak mati 13 orang di Kota Aramoana, Pulau Selatan.

Menurut undang-undang Selandia Baru, siapa saja yang berusia di atas 16 tahun dapat mengajukan izin untuk memiliki senjata api standar dengan syarat telah lulus dari kursus keselamatan.

Namun begitu, izin yang diberikan ini secara tidak langsung telah memberikan peluang bagi warga untuk membeli dan menggunakan senapan tanpa pengawasan. (Sbg/Rig)

Comments