Memakai Masker saat beraktivitas di luar rumah adalah bentuk sederhana dari new normal
(Sumber: Grailled.com).

Sabigaju.com – Sejumlah negara kini mulai melonggarakan kebijakan terkait mobilitas warganya. Di sinilah, pola hidup baru atau new normal akan diimplementasikan.

Lantas, apa dan seperti apa new normal tersebut? New normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Dengan dilonggarkannya pembatasan, masyarakat akan mulai keluar rumah untuk menjalankan aktivitas. Dalam konteks ini, pola hidup baru harus dijalani hingga ditemukannya vaksin atau obat yang efektif

Prinsip utama dari new normal itu sendiri adalah dapat menyesuaikan dengan pola hidup.  Kita harus beradaptasi dengan beraktivitas, dan bekerja, dan tentunya harus mengurangi kontak fisik dengan orang lain, dan menghindari kerumunan, serta bekerja, bersekolah dari rumah.

BACA JUGA: Alasan Sebagian Orang Tak Ingin Pembatasan Sosial Berakhir

Rendahnya Kesadaran Masyarakat

Salah satu kekhawatiran jika new normal diberlakukandlam wktu dekat adalah rendahnya kesadaran masyarakat kita. Masyarakat kita masih banyak yang tak acuh dengan
protokol kesehatan.

Hal ini jelas tampak dari berbagai kondisi terkini yang terjadi di berbagai daerah. Pasar, pertokoan, hingga jalanan kembali disesaki warga tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Situasi ini berlangsung bahkan di saat PSBB masih diberlakukan.

Hal itu menimbulkan kekecewaan tenaga medis merekapun beramai-ramai menggaungkn tagar “Indonesia Terserah” yang viral di media sosial.

Bagi banyak orang, new normal bisa menjadi tantangan besar karena proses adaptasi tentunya tidak semudah membalikan telapak tangan. Bahkan, proses adaptasi ini bisa menimbulkan gangguan psikologis yang serius pada beberapa orang.

1. Berdamai dengan Keadaan

Menurut psikolog klinis Adam Borland, salah satu bagian terpenting agar sukses beradaptasi dengan new normal adalah menerima kenyataan bahwa hal ini juga baru bagi semua orang.

“Ada banyak hal di luar kendali namun kita tetap harus bisa mepertahankan rutinitas harian, seperti mengerjakan tugas-tugas yang bisa kita selesaikan untuk mendapatkan pencapaian nyata,” ucapnya.

BACA JUGA: Mengapa Pria Enggan Mengenakan Masker di Masa Pandemi?

2. Jaga komunikasi dengan Orang Lain

Rasa kecewa dan frustasi adalah hal yang tak bisa kita hindari di tengah situasi saat ini. Oleh karena itu, Borland menyarankan agar kita tetap terhubung dengan orang lain.

Hal ini akan membantu kita agar tidak lagi merasa sendiri serta pekerjaan kitapun tetap lancar,

3. Pertahankan Keseimbangan Emosi

Keseimbangan emosi snagat diperlukan agar kita tetap tenang di tengah situasi new normal ataupun momen  yang penuh dengan ketidakpastian.

Keseimbangan emosi juga turut menentukan kesehatan fisik kita. Dan yang  perlu kita lakukan adalah mengidentifikasi perasaan kita tanpa melakukan penghakiman.

BACA JUGA: Gaya Hidup Minimalis Bikin Hidup Tenang di Masa Pandemi

4. Fokus pada Masa Kini

Menurut Borland, situasi pandemi membuat kita selalu membayangkan hal buruk akan masa depan dan menyesali apa yang seharusnya kita lakukan di masa lalu.

Menurutnya, hal tersebut hanya akan membuat kita sulit beradaptasi dengan keadaan dan tidak bisa fokus pada hal-hal yang harus kita kerjakan di masa kini.

“Biarkan segala sesuatunya terjadi. Hal yang perlu kita lakukan dalah fokus pada masa kini dan mengerjakan apa yang harus kita selesaikan,” tutup  Borland.

Konsep  kenormalan baru sendiri sejatinya adalah fase berikutnya yang harus dijalani oleh masyarakat ketika pembatasan mulai dikendurkan. New normal menjadi keniscayaan manakala pembatasan mulai ditinggalkan. (Sbg/Rig)

Comments