Berselingkuh
Lewat sebuah riset ilmiah, para peneliti mengajak kita menelaah lebih jauh alasan  seseorang memulai afair alias berselingkuh dengan orang lain. (Foto: understandingrelationships.com)

Sabigaju.com – Tak sedikit orang yang punya anggapan bahwa alasan kaum pria berselingkuh dan meninggalkan istri atau pasangannya hanya untuk wanita yang lebih seksi atau lebih cantik. Sementara wanita akan meninggalkan suaminya demi pria yang lebih mapan.

Apapun alasannya, orang yang berselingkuh dalam suatu hubungan pernikahan cenderung disalahkan. Ini bukan hanya soal kepercayaan yang dilanggar, rasa percaya diri pun bisa terusik karenanya.

Nah, ternyata lewat sebuah riset ilmiah, para peneliti mengajak kita menelaah lebih jauh alasan  seseorang memulai afair alias berselingkuh. Berikut uraiannya.

BACA JUGA:

Mengabaikan Pasangan, Membuka Jalan Perselingkuhan

Lewat sebuah Studi yang dipublikasikan Archives of Sexual Behavior para peneliti menemukan, seseorang yang merasa diabaikan atau disakiti oleh pasangannya lebih cenderung berselingkuh daripada orang yang benar-benar bahagia dengan hubungan mereka.

“Secara keseluruhan, penelitian kami menunjukkan perilaku menyakitkan menghilangkan hasrat akan pasangan, mengalihkan perhatian setidaknya untuk sementara pada hubungan baru yang tampaknya lebih menjanjikan,” ujar peneliti Gurit Birnbaum, Ph.D., profesor di Baruch Ivcher School of Psychology.

Empat Experimen Perselingkuhan

Para peneliti menyimpulkan ini setelah melakukan empat eksperimen.

Dalam studi pertama, peserta yang punya pasangan diminta ikut survei daring. Pertanyaan yang diajukan adalah seberapa sakit hatinya mereka karena pasangan akhir-akhir ini, seberapa tertarik mereka secara seksual kepada pasangan, dan seberapa sering mereka berfantasi atau menggoda dengan orang lain.

Hasilnya, peserta survei yang menyatakan merasa terluka karena pasangan juga cenderung kurang tertarik pada pasangan mereka. Alhasil, mereka cenderung berfantasi bahkan saling goda dengan orang lain.

Untuk studi kedua, para peneliti meminta pasangan menggambarkan secara rinci, waktu pasangan mereka telah menyakiti perasaan atau sekadar berbicara tentang keseharian dalam hidup mereka bersama.

Kemudian, mereka diminta menilai seberapa tertarik mereka pada pasangan, dan menilai apakah mereka tertarik pada foto pasangan potensial lain. Ternyata orang yang baru mengingat kenangan buruk dengan pasangan cenderung menganggap pasangan mereka tidak menarik. Akibatnya mereka cenderung merespons foto lawan jenis lain secara positif.

Dalam eksperimen ketiga dan keempat, para peneliti menempatkan peserta dalam situasi lebih realistis dengan orang-orang yang mungkin menarik bagi mereka.

Studi ketiga merupakan situasi di mana lawan jenis berpenampilan menarik akan meminta bantuan dari salah satu peserta yang sudah berpasangan. Mereka juga meminta peserta dari jenis kelamin sama meminta bantuan peserta.

Ternyata, orang cenderung membantu lawan jenis. Ini menegaskan bahwa orang cenderung membantu sosok yang mereka sukai. Apakah mereka sekadar membantu atau menggodanya juga?

Lewat studi keempat, peneliti mengungkap bahwa mereka mungkin melakukannya. Terutama jika mereka tidak bahagia bersama pasangan.

Semua kembali Pada Kualitas Hubungan

Perilaku pasangan yang cenderung menyakiti perasaan mengikis hasrat yang dimiliki seseorang pada pasangannya. Sepanjang hidup, orang akan menghadapi hal dan situasi yang membahayakan bagi hubungan.

Studi ini menunjukkan, ketika ancaman internal terhadap hubungan muncul, pasangan mungkin jadi lebih rentan merasa tertarik, menggoda calon pasangan alternatif. Ketertarikan secara seksual kepada pasangan alternatif bisa jadi sarana mengatasi perasaan terluka.

Daya tarik ini, bagaimanapun bisa mengganggu kemampuan atau kemauan mereka untuk terlibat dalam perilaku yang menyelamatkan hubungan.

Memang tidak semua perselingkuhan akan berakhir dengan perpisahan atau perceraian. Tidak sedikit pernikahan yang kembali utuh setelah salah satu pasangan berselingkuh. Namun, diperlukan peran dari kedua pihak untuk mengevaluasi diri, memaafkan, memberi waktu bagi satu sama lain, dan memperbarui komitmen kebersamaan. (Sbg/Rig)

Comments