Ilustrasi Pernikahan (Image by: Pixabay)
Ilustrasi Pernikahan (Image by: Pixabay)

Sabigaju.com – Di era yang sudah serba komersil, meleburnya hal yang sakral dan yang profan menjadi komoditi beragam ritual. Termasuk   pernikahan

Jika dulu pernikahan, dipandang sakral, kini berubah menjadi rangkaian acara seremoni belaka yang dikemas secara apik oleh industri kebudayaan.

Satu persatu acara dikemas, mulai dari tahapan pengajian, seserahan, akad nikah hingga resepsi megah, berikut sentuhan baru seperti ritual pra-wedding, hingga bridal shower, lengkap dengan paket harga yang ditawarkan para kreator di dalamnya.

Meleburnya Nilai yang Sakral dan Komersial

Acara akad nikah yang dulu dikenal sakral sebagai momen penyatuan dua insan terpisah, baik perjaka-perawan ting ting, duda-janda, perawan-duda atau sebaliknya janda-perjaka.

Ritual pingitan yang menandai jarak kesucian jiwa-jiwa dan tubuh tak tersentuh yang akan dipertemukan dalam suatu ikatan kini tak lagi jadi keharusan.

Bahkan sejak fenomena ‘keperawanan’ tak lagi jadi syarat mutlak dalam pernikahan, ritual itu seakan hanya jadi seremoni belaka.

Bayangkan saja, di tahun 2010 saja Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Ponorogo, Jawa Tengah, sudah merilis data jika 80% remaja putri di Ponorogo pernah melakukan hubungan seks pranikah.

Bahkan pada remaja pria, data angka persentasenya sedikit lebih besar lagi. Hasil survey secara acak itu jelas mengejutkan. Jika di Ponorogo saja menyentuh angka 80 %, bagaimana di kota-kota besar.

Anehnya, di kota-kota besar seperti Jabodetabek, angka itu justru menurun, hanya sekitar 51%, sebagaimana dirilis oleh BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Bencana Nasional) pada awal bulan Nopember lalu.

Yang mengejutkan justru terjadi di Jogyakarta, dimana persentase hilangnya keperawanan di kalangan para mahasiswi kota Jogyakarta mencapai 97,05% di atas Ponorogo.

Data itu sebagaimana pernah dirilis oleh LSCK PUSBIH (Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora) pada tahun 2002 silam

Bergesernya Makna Virginitas

Bergesernya makna virginitas di tengah pergaulan bebas, menjadikan pernikahan hanyalah serangkaian acara formal yang didesain dengan sentuhan komersial yang menarik.

Fakta hilangnya keperawanan sebelum menikah inilah seakan memicu prosesi pernikahan hanyalah ritual formal yang menarik dengan kemasan industri wedding organizer.

Pernikahan sepertinya hanya menjadi sekadar tahap mengukuhkan status sosial semata sebagai sepasang suami istri yang sah.

Ilustrasi pesta Pernikahan (Image by: Pixabay)
Ilustrasi pesta Pernikahan (Image by: Pixabay)

Misalnya saja ada pernikahan selebriti yang serba wah, namun publik menduga kalau mereka sudah hidup bersama, sebelum akad nikah dihelat.

Maka wajar jika ritual pernikahan pada akhirnya menjadi ritual serba terukur berdasarkan kelas sosial yang ada.

Apalagi sejumlah selebriti yang diam-diam gencar mempromosikan model ritual akad nikah dan resepsi yang serba wah seolah-olah sakral.

Padahal sesungguhnya boleh jadi yang sacral itu sepenuhnya hanya bagian dari serangkaian acara formal miskin makna di dalamnya. (Sbg/Elv)

Comments