Mobil Listrik
(Foto: Pixabay)

Sabigaju.com -Sabigaju.com – Presiden Jokowi belum lama ini meneken Peraturan Presiden (Perpres) terkait mobil listrik.Aturan hukum mobil ramah lingkungan ini juga akan didukung Peraturan Pemerintah (PP) baru, hasil dari revisi PP Nomor 41 tahun 2013, tentang Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Salah satu aturan turunan dari Perpres mobil listrik ini di antaranya mengatur tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) untuk kendaraan bermotor listrik (KBL). Contoh komponennya adalah battery electric vehicle (BEV).

Lantas apakah mobil elektrik benar-benar aman bagi lingkungan daripada Mobil berbahan bakar bensin?

BACA JUGA: Lima Prediksi yang Bakal Terjadi di Era Kendaraan Listrik

Studi Soal Pencemaran Mobil Listrik

Beralih ke mobil lstrik tidak secara alami menghilangkan penggunaan bahan bakar fosil, karena listrik yang menggerakkan mereka masih berasal dari bahan bakar fosil.

Sebuah Menurut studi yang dilakukan oleh perusahaan otomotif Berils Strategy Advisors di Munich, menunjukkan, meski mobil elektrik bebas emisi di jalan, ternyata kendaraan yang diprediksi lebih ramah lingkungan ini juga mengeluarkan lebih banyak karbondioksida (CO2) ketimbang mobil berbahan bakar bensin dan diesel.

Di Indonesia, pembangkit listrik juga masih banyak mengandalkan batu bara sebagai sumber energi fosil dan tidak terbarukan.

Menggunakan bahan bakar fosil untuk menggerakkan kendaraan listrik justru mengurangi manfaat perbaikan iklim.

BACA JUGA: [Video] Kecanggihan Ini Bikin Kamu Pengen Punya Mobil Listrik

Permintaan baterai untuk mobil listrik akan melambung pada 2021. Peneliti memprediksi lebih dari 10 juta mobil setidaknya membutuhkan baterai berkapasitas 60 kilowatt per jam (kWh). Dengan Baterai Seberat Itu, jejak karbon mobil elektrik bisa cukup besar.

Menurut laman Bloomberg, permasalahan utama klaim studi baru terletak pada pengisi daya. Khususnya tentang bagaimana dan di mana baterai untuk mobil elektrik dibuat, juga dari mana tenaga listrik didapat.

Studi menemukan, untuk membuat satu baterai mobil elektrik dengan berat lebih dari 500 kilogram atau seukuran mobil sport, akan melepas C02 hingga 74 persen lebih banyak dibanding memproduksi mobil konvensional yang dibuat di pabrik dengan tenaga bahan bakar fosil layaknya di Jerman.

Peneliti membandingkan CO2 yang dilepas mobil-mobil konvensional buatan Jerman dengan beberapa produsen mobil elektrik yang memproduksi baterai lithium-ion di tempat-tempat berjaringan listrik paling mencemari dunia.

BACA JUGA: Enam Motor Listrik Retro yang Bikin Gayamu Keceh Selangit 

Berdasarkan prediksi, sebagian besar pasokan baterai akan didatangkan dari Tiongkok, Thailand, termasuk Jerman dan Polandia. Kesemuanya saat ini masih bergantung pada sumber-sumber tak terbarukan untuk menghasilkan listrik, seperti batu bara.

“Kita sedang menghadapi gelombang haluan emisi CO2 tambahan,” kata Andreas Radics, seorang managing partner dari Berils.

Ia berpendapat untuk saat ini, mobil-mobil bermesin diesel di Jerman atau Polandia mungkin masih lebih efisien ketimbang mobil elektrik.

Laporan Bloomberg menekankan perlunya strategi global menuju masa depan rendah karbon. Beralih ke mobil elektrik saja tidak cukup. Kita juga perlu beralih ke listrik yang lebih hijau.

Ini berarti pembangkit listrik batu bara harus digantikan oleh energi terbarukan sedini mungkin. Sebab sumber listrik lebih bersih melandasi mobil elektrik yang ramah lingkungan.(Sbg/Rig)

Comments