Sabigaju.com – Harvard Business School mengeluarkan survei yang cukup mengejutkan. 94% pekerja profesional bekerja lebih dari 50 jam per minggu dan setengahnya bahkan bekerja lebih dari 65 jam per minggu. Survei dari Harvard Business School tersebut dilakukan dengan sampel berbagai macam pekerja, termasuk pekerja kampus. Dengan melihat hasil survei tersebut, bisa dikatakan bekerja di kampus adalah sebuah pengabdian sekaligus penghidupan.

Mengapa pengabdian? Menurut lembaga survei Times Higher Education, para pekerja akademisi kebanyakan sering merasa stress dan gaji kurang atas pekerjaan mereka. Selain itu, para pekerja akademisi menganggap pekerjaan mereka menyita banyak waktu untuk hubungan personal mereka, baik dengan keluarga ataupun pertemanan. Pun begitu, para pekerja akademisi menganggap pekerjaan mereka punya “tujuan mulia” selain uang, yaitu mendidik orang. Hal tersebut dibuktikan dengan kebanyakan pekerja akademisi merekomendasikan pekerjaan mereka kepada anak mereka.

Namun, tuntutan hidup yang semakin berat membuat pekerja akademisi harus berpikir ulang untuk melepas pekerjaan mereka. Meskipun faktanya para pekerja akademisi harus berhadapan dengan stres dan gaji yang kurang dari pekerjaan mereka.

BACA JUGA: Daftar Makanan yang Dapat Mengurangi Stres dan Depresi

Kapasitas Kerja dan Kesehatan Mental

Bagi sebagian karyawan dan perusahaan, kesehatan psikis dalam dunia kerja dianggap bukan prioritas dibanding kesehatan fisik. Pada akhirnya, mereka sering mengabaikan gangguan-gangguan psikis demi mengejar target pekerjaan mereka. Padahal, keduanya sama-sama mempengaruhi kualitas pekerjaan mereka. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, bukan hanya kualitas pekerjaan saja yang menjadi taruhannya. Kehidupan personal para pekerja akan ikut terganggu.

Hal tersebut dibuktikan oleh WHO. Survei dari WHO mencatat 1 dari 7 orang mengalami gangguan jiwa karena terlalu lama bekerja di kantor. Di dunia kreatif, pekerja di sektor tersebut sepertiganya terbiasa bekerja lebih dari 48 jam per minggu. Berbagai cerita juga menegaskan bahwa pekerja kreatif rentan stress karena tuntutan kerja yang berlebih.

Hal tersebut juga dialami oleh pekerja akademis. Times Higher Education menunjukkan, para akademisi rata-rata bekerja 9-10 jam setiap harinya. Bahkan, 31% akademisi bekerja sering full time selama Sabtu dan Minggu. Pekerjaan yang terlalu banyak dibanding waktu 8 jam kerja membuat para pekerja akademis merelakan waktu pribadinya untuk lembur.

Konsekuensi dari overwork tersebut berimbas ke kehidupan mereka. Temuan yang ada menunjukkan bekerja di universitas membuat kehidupan mereka tidak seimbang dibanding teman-teman mereka yang berkecimpung di pekerjaan berbeda. Lebih buruk lagi, bekerja di universitas membuat mereka berpikir bahwa kehidupan keluarga akan mengganggu pekerjaan mereka. Bahkan, banyak yang menunda punya anak agar karier mereka baik-baik saja.

Dari segi kesehatan mental, survei menunjukkan bahwa pekerjaan di kampus membuat mereka tidak bisa bertemu dengan teman dan gagal membina hubungan personal. Jika hal tersebut dibiarkan, bukan tidak mungkin banyak pekerja akademisi yang terganggu mentalnya karena pekerjaan yang menumpuk. Pada akhirnya, pekerja akademisi hanya memiliki 2 pilihan; hidup untuk bekerja atau bekerja untuk hidup.

Temuan ini memang cukup menarik karena pekerja kampus seringkali mendapatkan citra ‘mapan’. Apalagi di Indonesia. Sayangnya, hasil survey serupa di Indonesia belum ada. Nah, kalau kamu termasuk salah satu dari pekerja kampus, gimana sih ritme kerja di kantormu, Sob? Apakah kehidupan sehari-hari yang seimbang hanya ada di angan-angan? (sbg/Erny)

Comments