Masjid Al Amin di Kota Beirut

Sabigaju.com – Dunia tengah berduka, ditengha pandemi yang belum juga mereda, sebuah ledakan besar mengguncang Kota Beirut di Libanon yang menyebabkan puluhan orang tewas dan ribuan lainnya mengalami luka-luka.

Ledakan yang berlokasi di kawasan pelabuhan itu mengguncangkan seluruh ibu kota, mengguncang bangunan dan menebarkan kepanikan di antara warganya.

Ledakan ini menambah duka warga Libanon, Bagaimana tidak, silih berganti perang mengoyak negeri ini mulai dari Perang Saudara hingga Perang dengan Israel di tahun 2006.

Nah, Kota Beirut pernah ditasbihkan sebagai Parisnya Timur Tengah bahkan meraih predikat sebagai kota tujuan wisata wajib kunjung nomor satu oleh New York Times di tahun 2009 lalu.

BACA JUGA: Lima Destinasi Wisata Terbaik untuk Para Pria Single

Beirut, Paris of Middle East

Kota Beirut sendiri merupakan kota yang dijuluki Paris of Middle East. Tingkat kemiripan bisa dibilang hampir 80 %, sangat tinggi memang untuk sebuah kota yang jaraknya terpisah ribuan km.

Di Kota Beirut ini jalan jalan sama sempitnya seperti jalan jalan dikota Paris. Papan nama toko, nama sekolah, nama jalan, nama bus, nama restaurant, Koran dan TV banyak yang berbahasa Perancis.

Suasana di Beirut
(Foto: Instagram.com/micha.hajjmoussa)

 

Penduduk Beirut banyak yang  menguasai bahasa Perancis dengan baik sekali selain bahasa Arab. Apalagi, penduduk Lebanon umumnya sangat modis sekali dengan warna kulit dan rambut agak agak bule sedikit, mirip dengan warga Paris.

 

Gedung gedung pertokoan dan apartment juga memiliki design arsitektur yang relative sama dengan gedung di Paris.

(Foto: Instagram.com/thestrollingtarzan)

Kalau kamu berphotodi Beirut dengan latar belakang papan nama toko lalu anda upload ke media sosial, dijamin banyak yang akan mengira kamu tengah berada di Paris.

BACA JUGA: Destinasi yang Pas dan Menenangkan Bagi Para Introvert

Kota Buku

Selain memiliki banyak kafe-kafe bergaya Paris di tepi jalan, kota Beirut juga tidak pernah kekurangan diskusi intelektual. Kota ini seakan terus hidup dengan pertunjukan seni, drama, dan pembacaan puisi.

(Foto: Instagram.com/papercupstore)

Hal ini tak lepas dari budaya literasi di kota Beirut, di mana kota iniadalah  pusat penerbitan buku-buku atau kitab-kitab keislaman dari yang klasik sampai yang modern atau kontemporer.

Beirutnya sebagai tempat yang subur dan aman bagi penerbitan kitab-kitab Arab Islam. Buku-buku keislaman apapun dan betapapun potensi kontroversialnya biasa diterbitkan di sana tanpa ada keberatan atau protes dari kelompok-kelompok tertentu yang berkeberatan atas isinya dan atau gugatan dari kalangan antiintelektualisme manapun.

(Foto: Instagram.com/papercupstore)

Selain itu, setiap tahun Beirut menjadi tuan rumah The Salon Franchopone du Livre, yaitu salon literasi terbesar di luar Paris (Perancis) dan Montreal (Canada).

Beirut juga menjadi Tuan Rumah tetap Arab and International Book Fair (Pameran Buku Arab dan Dunia).

Tak Heran jika pada Tahun 2009, Badan PBB UNESCO,sampai menobatkan Beirut sebagai World Book Capital alias Ibukota Buku Dunia. (Sbg/Rig)

Comments