Begal Payudara
Masyarakat kini tengah dihebohkan dengan pemberitaan soal peristiwa pelecehan seksual yakni tindakan begal payudara yang kembali terjadi di Kawasan Yogyakarta.(Foto: Via Panjimas.com)

Sabigaju.com – Masyarakat kini tengah dihebohkan dengan pemberitaan soal peristiwa pelecehan seksual yakni tindakan begal payudara yang kembali terjadi di Kawasan Yogyakarta.

Jika sebelumnya tindak pelecehan seksual begal payudara terjadi di Wilayah Mergangsan dengan korban seorang bule wanita asal Belanda, kini kejadian serupa menimpa seorang mahasiswi asal Cilacap, Jawa Tengah.

Mahasiswi berada di Jalan Ngasem Yogyakarta tepatnya di selatan Gapura Ngasem untuk menunggu kedatangan taksi online yang telah dipesan di kawasan Kraton. Pelaku tanpa dosa mendekati korban kemudian tiba-tiba dari samping meremas buah dada mahasiswi tersebut.

Kini pihak kepolisian tengah mengusut kasus tersebut dan kita berharap agar para pelaku begal payudara jera.

BACA JUGA: Cowok Sejati itu Tidak Melakukan Pelecehan Seksual 

Mengapa Lelaki Menyukai Payudara?

Motif begal payudara yang kebanyakan pelakunya lelaki selalu sama, iseng. Bila tidak kenal, mereka akan menghampiri perempuan secara acak, meremas payudara, lalu kabur.

Pertanyaannya, mengapa para begal payudara ini bisa-bisanya melakukan tindakan sembrono sekaligus tak bermoral seperti itu? Lebih spesifik, apa yang mendorongnya berbuat iseng dengan meremas payudara orang yang tidak dikenalnya?

Menurut sebuah penelitian yang terdiri dari para ahli saraf di Emory University menemukan bahwa lelaki memang terobsesi pada payudara sejak bayi. Terjadi secara alami, bukan diajarkan. Yakni karena proses neurologis yang terkait dengan mekanisme otak.

BACA JUGA: Lima Modus Kejahatan pada Wanita yang Sering Terjadi 

Di masa menyusui, otak ibu dan bayi memicu pelepasan hormon oksitosin dan dopamin. Fungsinya membentuk ikatan kuat antara ibu dan bayi. Efek hormon ini bertahan abadi, dan selanjutnya berkembang menciptakan dorongan evolusioner.

Ketika lelaki dewasa melihat perempuan, proses kejadian otaknya bisa mirip saat menyusui sehingga membuatnya ingin menatap sampai memegang payudara.

“Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa ketika kita berhadapan dengan payudara, atau bahkan rangsangan terkait payudara, seperti beha, kita akan mulai membuat keputusan yang buruk,” sebut para peneliti.

Meski begitu, kita perlu menyelaraskan pemahaman, bahwa menyentuh apalagi meremas payudara orang lain merupakan pelanggaran sosial yang punya konsekuensi.

BACA JUGA: Menengok Nasib Malang Korban Pemerkosaan di Paraguay 

Jerat Hukum untuk Begal Payudara

Seiring pendewasaan diri, pada dasarnya orang akan belajar arti tiap sentuhan. Sentuhan itu merupakan cara komunikasi paling primitif, yang membuat kita terbiasa membedakan dan menempatkan bahwa sentuhan yang diperbolehkan adalah yang dilakukan orang dekat.

Untuk itu, bagi perempuan, mencegah dengan tidak berjalan sendirian terutama di malam hari dan lebih penting lagi, motif serangan seksual apapun yang mencakup pelecehan dan kekerasan seksual perlu dilawan dengan berani bicara.

Hal ini untuk menunjukkan bahwa begal payudara ataupun tindak pelecehan seksual adalah masalah serius dan, tidak boleh disepelekan.

BACA JUGA: RUU PKS, Antara Ragam Alasan Penolakan dan Desakan Pengesahan

Jerat Hukum  Buat Pelaku Begal Payudara

Lantas apa yang harus dilakukan ketika mengalami pelecehan seksual begal payudara?

Kendati sampai saat ini RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS)masih dalam pembahasan di DPR, namun sanksi bagi pelaku pelecehan seksual alias perbuatan cabul, diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Dikutip dari laman Hukum Online, jika terbukti melakukan pelecehan seseorang dapat terancam hukuman penjara maksimal dua tahun delapan bulan atau denda Rp4.500.

Begal Payudara adalah tindak pidana  yang punya konsekuensi hukum. (Sbg/Rig)

Comments