Kurang Tidur
Hasil penelitian menyebutkan kurang tidur dapat meningkatkan kecemasan serta menyebabkan serangan jantung. (Foto: Unsplash)

Sabigaju.com – Salah satu aktivitas yang punya segudang manfaat setelah menjalani berbagai kegiatan super padat adalah tidur.

Tidur memiliki manfaat untuk kesehatan otak dan membuat suasana hati yang lebih baik. Itulah sebabnya jika kita mengalami kurang tidur dan berbahaya bagi pembuluh nadi atau arteri.

Tidak cuma kesehatan fisik saja, tidur cukup membantu memelihara kesehatan mental juga. Sudah banyak studi yang melaporkan berbagai efek merugikan pada kondisi kejiwaan seseorang akibat kurang tidur.

Begadang dan Kurang Tidur Bisa Tingkatkan Kecemasan

Belum lama ini sebuah penelitian teranyar menghubungkan efek kurang tidur dengan peningkatan risiko gangguan cemas alias ansietas. Kenapa bisa begitu? Para pakar dari berbagai belahan dunia sepakat bahwa kebiasaan tidak tidur cukup selama 7-8 jam setiap malam dapat menyebabkan kewaspadaan dan konsentrasi otak menurun.

Maka, tidak heran setelah berjam-jam (atau bahkan berhari-hari) tidak tidur cukup, kita jadi suka bingung dan sulit berpikir jernih. Sebuah penelitian dari Binghamton University menemukan bahwa kebiasaan kurang tidur dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan kecemasan.

Kurang tidur juga menurunkan kemampuan untuk mengendalikan perilaku karena fungsi pengendalian dalam otak tidak bisa bekerja dengan baik. Maka sewaktu tubuh dalam keadaan terjaga, otak akan bekerja dalam mode autopilot dan mengacu pada pola yang sudah ada yaitu kebiasaan.

Dalam hal ini adalah berpikir yang tidak-tidak sehingga memicu kecemasan, akan lebih sulit jika kita mengantuk. Pasalnya otak yang kelelahan akan otomatis mengulang perilaku yang sama pada situasi yang sama.

Efek pengulangan pikiran negatif ini adalah masalah serupa dengan yang sering dialami oleh orang pengidap gangguan kecemasan (ansietas) dan depresi. Ansietas juga dapat membuat sulit tidur nyenyak Ilustrasi kurang tidur(stevanovicigor) Kurang tidur bukan penyebab langsung dari gangguan cemas.

Namun, kecemasan dan tidur nyatanya saling memengaruhi satu sama lain. Semakin buruk kualitas tidur, semakin parah juga gejala ansietas yang mungkin muncul.

Ini karena dominasi pikiran negatif yang terus menyelimuti otak bisa membuat seseorang mudah stres. Dalam jangka panjang, stres kronis dapat meningkatkan risiko insomnia yang membuat seseorang makin susah tidur dan kemudian memicu kemunculan gejala-gejala ansietas. Sebaliknya pun begitu.

Bisa Mengakibatkan serangan Jantung

Dalam sebuah penelitian yang dipresentasikan di European Society of Cardiology Congress 2018 di Munich Jerman, ada hubungan antara kurang tidur dengan durasi kurang dari enam jam per hari, atau terbangun beberapa kali saat tidur malam, dengan pengerasan arteri.

Mengutip Reader’s Digest, penelitian yang dilakukan Fernando Dominjuez dari Spanish National Centre for Cardiovascular Research ini, memantau kualitas dan kuantitas tidur dari 3,974 orang dewasa setengah baya yang sehat, selama tujuh hari.

Para peneliti menemukan, orang yang tidur dengan durasi sangat pendek atau kurang tidur, memiliki lebih tinggi risiko terkena aterosklerosis atau pengerasan arteri, dibandingkan dengan orang yang memiliki tujuh sampai delapan jam tidur.

Arteri yang sehat fleksibel dan elastis. Namun, seiring berjalannya waktu, dinding arteri bisa mengalami pengerasan. Selain itu, kolesterol dan zat lain dalam dinding arteri (plak), bisa membatasi aliran darah. Selain itu, hal ini bisa berujung pada masalah jantung.

Selain itu, sebagian besar individu dengan jumlah tidur sedikit memiliki sindrom metabolik yang lebih tinggi. Hal ini terkait dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

So, mulai sekarang jangan abaikan tidur malam sebab hal itu adalah salah satu cara untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan mu secara menyeluruh. (Sbg/Rig)

Comments