RCTI menggugat UU penyiaran apakah bakal berdampak pada siaran live di mmedia sosial?
(Foro: Freepik.com)

Sabigaju.com – Sampai hari ini Netizen masih ramai memperbincangkan gugatan terhadap UU Penyiaran yang dilakukan RCTI dan iNews.

Keduanya meminta setiap siaran yang menggunakan internet, seperti YouTube hingga Netflix tunduk pada UU Penyiaran. Bila tidak, RCTI-iNews khawatir muncul konten yang bertentangan dengan UUD 1945 dan Pancasila.

Gugatan tersebut dianggap memungkinkan pengguna media sosial di Indonesia terancam tak bisa lagi tampil leluasa memanfaatkan fitur video over the top (OTT) atau Live dalam platform media sosial yang tidak mengantungi izin sebagai lembaga penyiaran.

Seperti diketahui, layanan live, seperti Instagram Live, Facebook Live, dan YouTube Live sangat populer di Indonesia.

Selain itu, ada juga layanan live gaming, seperti Twitch dan Nimo TV. Penggunaan layanan-layanan ini justru sangat meningkat pada masa pandemi ini.

BACA JUGA: Lima Alasan Mengapa Menonton TV Memberikan Dampak Positif Bagi Diri Kita 

Era Digital Bikin TV Makin Ditinggalkan

Kecanggihan teknologi saat ini memungkinkan banyak orang bisa melakukaan kegiatan memanfaatkan layanan livestreaming sebagai media siaran mereka ke muka publik. Tanpa harus melalui layanan televisi yang selama ini identik dengan hal itu.

Tengok saja di masa pandemi ini. Mulai konser musik, pemutaran film yang tak bisa dilakukan di bioskop, promo belanja secara online bahkan pembelajaran dan berbagai webinar ataupun talkshow banyak menggunakan metode livestreaming yang merupakan bagian dari OTT.

Dan harus diakui nampaknya keunggulan ini Kondisi ini mau tidak mau semakin menggerus pamor televisi di mata masyarakat.

BACA JUGA: Waspada Dampak Buruk Binge Watching Saat Pandemi

Era Disrupsi

Gugatan yang dilakukan RCTI dan iNews dinilai tidak mengikuti perkembangan zaman yang mana sekarang sudah masuk ke era digital.

Bahkan bisa dibilang mirip dengan keriuhan yang terjadi beberapa waku lalu saat layanan transportasi daring mulai mewabah di Indonesia.

Saat itu para angkutan umum berplat kuning dan ojek pengkolan seperti alergi dengan kemunculan transportasi daring seperti Gojek, Uber, Grab, dan sejenisnya.

Ada upaya saling hadang, demonstrasi terkait legalitas operasi, bahkan hingga berujugn kekerasan. Tapi akhirnya bisa kita lihat, transportasi daring terus berkembang bahkan dengan skala cakupan yang lebih luas.

Hal ini bahkan dibahas oleh Prof. Rhenald Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul Disruption sebagai fenomena disrupsi alias perubahan yang dilakukan oleh pendatang baru menantang para pemain lama incumbent yang kelewat nyaman dengan singgasananya.

Pemain lama yang tidak siap akan jatuh karena gagal untuk melihat adanya gangguan-gangguan kecil yang semakin lama semakin kuat dari pemain baru.

Ada baiknya RCTI mengambil langkah drastis mengubah tampilan dan memikirkan strategi yang lebih mendekatkan jarak dengan para penikmat dunia maya. supaya tidak ditinggalkan.(Sbg/Rig)

Comments