Ilustrasi Berbicara dengan teman
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Hingga hari ini Pandemi corona belum mereda, kita tahu selama ini penularan virus menyerang organ pernafasan manusia lewat tetesan atau droplets yang bisa menempel di mana-mana.

Ketika seseorang batuk atau bersin dan mengeluarkan cairan mengandung virus, berpotensi akan menyebar ke udara dan bisa langsung masuk ke tubuh orang lain jika berada dalam posisi berdekatan.

Kini sebuah peneltin mengungkap bahwa penularan virus corona bis terjadi saat berbicara.

BACA JUGA: Bersiap Menyongsong Fase New Normal

Penularan Lewat Berbicara

Sebuah studi baru yang dilakukan ilmuwan dari National Institutes of Health telah menemukan bahwa partikel-partikel virus Corona yang dilepaskan saat berbicara dapat tetap berada di udara selama 8 hingga 14 menit dan menjadi peringatan bahwa penularan virus melalui udara mungkin lebih berisiko daripada yang diperkirakan sebelumnya.

“Ada kemungkinan besar bahwa berbicara dapat menyebabkan penularan virus melalui udara di lingkungan yang terbatas,” tulis penelitian tersebut yang diterbitkan dalam The Proceedings of the National Academy of Sciences

Studi ini menjelaskan bagaimana “berbicara bisa menyebabkan penularan virus melalui udara di lingkungan terbatas.” Ini termasuk di kantor, kapal pesiar dan panti jompo.

Penelitian ini memperkuat kebutuhan untuk memakai masker dan menjaga jarak fisik sehingga penyebarannya tetap rendah.

BACA JUGA: Mengapa Pria Enggan Mengenakan Masker di Masa Pandemi?

Dalam studi disebutkan ada kekhawatiran dari pasien COVID-19 tanpa gejala yang kemungkinan besar menjadi sumber penularan. Selain itu diterangkan pula bahwa orang yang berbicara lantang dan keras lebih mudah menularkan virus Corona.

“Pengamatan yang dilakukan dengan cahaya laser sensitif telah mengungkap bahwa berbicara dengan keras dapat memancarkan ribuan droplet dari mulut per detik,” tulis penelitan tersebut.

Pemindaian laser menunjukkan bahwa sekitar 2.600 tetesan droplet kecil yang dihasilkan per detik dari berbicara dengan suara normal.

Para peneliti menemukan bahwa berbicara dengan suara keras dapat menghasilkan tetesan yang lebih besar dan dalam jumlah yang lebih banyak.

Sekitar 1.000 tetesan virus bisa dihasilkan dalam satu menit saat berbicara dengan keras dan virus tersebut tetap mengudara selama lebih dari delapan menit, yang mampu dihirup oleh orang-orang dari jarak dekat.

BACA JUGA: Stay At Home Bikin Hasrat Bercinta Meningkat

Pentingnya Sirkulasi Udara

Meskipun droplet ditemukan mengalami dehidrasi dan menyusut, penelitian menunjukkan bahwa tetesan air liur ‘sangat mampu menularkan penyakit di ruang terbatas’.

Namun, percobaan tadi dilakukan di lingkungan yang aliran udaranya stagna. Tentunya, hasilnya akan berbeda alias tidak sama bila  di ruangan dengan ventilasi udara yang baik.

Jumlah virus dalam droplet juga bervariasi di antara beberapa pasien. Beberapa orang mungkin memiliki viral load yang tinggi dan menghasilkan beberapa ribu partikel lebih banyak sementara lainnya sedikit. (Sbg/Rig)

Comments