(Foto: Unsplash)

Sabigaju.com – Kodependensi adalah sebuah kondisi psikologis untuk menggambarkan perilaku kecanduan seseorang. Dalam hubungan, seorang yang bersifat kodependen akan cenderung menghindari ketidaknyamanan atau masalah emosional demi memenuhi keinginan orang lain—dalam hal ini pasangannya.

Ada dua peran dalam hubungan semacam ini. Orang yang kodependen berperan sebagai pengasuh, sementara pasangannya adalah pengendali. Para pengendali ini adalah orang-orang yang sangat butuh perhatian dalam bentuk apapun. Mereka akan berusaha mendapatkannya dengan berbagai cara seperti menyalahkan orang lain, menunjukkan kemarahan, mudah kesal, mengritik, banyak menuntut, merasa paling benar, dan sebagainya.

Sementara si pengasuh akan melakukan apapun demi menghindari berbagai hal negatif yang mungkin muncul, jika keinginan si pengendali tak terpenuhi. Dalam hubungan yang sarat kodependensi, si kodependen akan mengutamakan kebahagiaan dan keinginan orang lain hingga mengabaikan bahkan mengorbankan dirinya sendiri.

Kodependen pada awalnya dimaksudkan pada kasus kecanduan alkohol atau obat-obatan terlarang, namun semakin ke sini penerapannya semakin meluas hingga ke hubungan asmara. Well, dalam hubungan asmara pun seseorang bisa jadi kodependen pada pasangannya. Menjalin hubungan dengan seseorang memang membuat kamu jadi harus berkompromi dan menyesuaikan diri dengan pasangan dalam banyak hal, namun tidak berarti kamu harus menempatkan dia di atas segalanya.

BACA JUGA: Dampak Film Porno Bagi Hubunganmu dan Pasangan

Nah, coba Sobat Sabi simak penjabaran di bawah ini. Jika tiga poin yang disebutkan menggambarkan keadaan kamu, tandanya kamu ketergantungan pada pasanganmu.

Dampak kodependensi nyatanya negatif untuk hubungan kamu dan si dia. (Foto: Unsplash)

Kamu Terlalu Banyak Mengambil Alih Tanggung Jawab

Tentu saja kamu ingin menjaga pasanganmu, tapi dia bukan bayi yang sepenuhnya bergantung padamu. Kamu mendikte setiap hal tentang dirinya. Kamu menentukan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tak boleh dilakukan. Kamu mengingatkan dia untuk dia melakukan sesuatu agar tak jadi masalah, kamu pun jadi pihak yang sibuk membereskan permasalahan yang dia buat.

Kamu Menyalahartikan Cinta Sebagai Pertolongan

Sifat kodependen membuat kamu selalu berpikir bahwa cinta adalah tentang cara menolongnya. Jika dia mempunyai sifat buruk—yang sebenarnya merugikan kamu—kamu bertahan dan berpikir bahwa cuma kamu yang bisa mengubahnya. Akibatnya, kamu akan berusaha mempertahankan hubungan tak peduli bagaimanapun kondisinya, atas nama kesetiaan pada pasangan. Tentu saja, ini bukan hal yang baik.

Kamu Tidak Pernah Mendapatkan Apa yang Kamu Mau

Tentu saja karena kamu di sini adalah si pengasuh. Kamu memberi apa yang dia mau, dia menentukan apa yang bisa dan tidak bisa kamu dapat. Contoh, kamu ingin beristirahat di rumah nanti malam, tapi dia ingin bertemu kamu. Dalam hubungan yang sehat, kalian akan berkompromi. Misal, kalian bernegosiasi untuk bertemu di rumahmu; agar kalian tetap bertemu, tapi kamu tetap tak perlu ke luar rumah. Nah, dalam hubungan yang dipengaruhi kodependensi, dia akan marah dan pada akhirnya kamu akan mengalah. Kalian akan bertemu, di tempat yang dia mau.

BACA JUGA: 4 Tanda Bahwa Hubunganmu Tak Layak untuk Dipertahankan

Hal ini memang sepele jika dilihat dari jarak dekat. Tapi, coba kamu lihat dari jauh agar sudut pandangmu meluas; kebiasaan ini jadi racun yang telah merusak hubunganmu.

Cara Mengatasi Kodependensi dalam Hubungan?

Kondisi ini bisa terjadi padamu akibat adanya disfungsi yang terbentuk secara intens. Jika kamu mengalaminya, alangkah lebih baik jika kamu mencari bantuan terapis, psikiater, psikolog, atau ahli kesehatan mental lain untuk terapi.

Mulailah fokus kepada diri sendiri. Ingat apa yang kamu mau, apa yang kamu butuh dan apa yang kamu impikan. Bebaskan dirimu dari ‘dikte’ orang lain karena kamu yang paling tahu apa yang baik untuk dirimu. (sbg/Fitri)

Comments