Apakah anak aman untuk kembali sekolah di masa new normal (
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Salah sektor yang juga perlu menyesuaikan diri dengan kebijakan new normal adalah sektor pendidikan alias sekolah. Adapun awal tahun ajaran baru 2020/2021 ini mulai pada Bulan Juli 2020 mendatang.

Mendikbud Nadiem Makarim sempat menegaskan keputusan pembukaan kembali sekolah akan ditetapkan berdasarkan pertimbangan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, dan bukan sepihak oleh Kemendikbud.

Namun belakangan Wacana dibukanya kembali sekolah pada Juli mendatang atau Tahun Ajaran Baru seiring dengan fase New Normal di Indonesia sempat menuai polemik khususnya di kalangan Orang Tua Siswa.

Wacana dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar di sekolah muncul setelahKemendikbud) tidak mengubah jadwal dimulainya tahun ajaran baru 2020/2021 yakni 13 Juli 2020.

Lalu bagaimana jika anak akan sekolah lagi di masa new normal?

BACA JUGA: Sedihnya Pelajar, Kenali Resiko Belajar dari Rumah

Belajar dari Korea Selatan

Tak terbayang oleh para orang tua bila anak terpaksa belajar ke sekolah di tengah suasana pandemi yang belum berakhir.

Banyak orang tua memutuskan lebih baik menunda proses akademik daripada anak harus back to school.Keresahan juga dirasakan ibu-ibu yang anaknya masih di bangku Sekolah Dasar hingga Taman Kanak-kanak.

Kita berharap, dibukanya kembali sektor pendidikan, tidak memicu gelombang kedua wabah Covid-19 ini.

Inilah pentingnya kewaspadaan bersama semua pihak, agar tidak terjadi musibah massal di sekolah. Kalau prosedur dan protokol kesehatan tidak bisa diimplementasikan dengan baik, nantinya alih-alih mencerdaskan anak didik, justru akan berpotensi menimbulkan masalah baru.

Kita harus belajar dari kasus Korea Selatan yang sempat membuka kembali sekolah pada 27 Mei 2020. Namun, sehari kemudian terjadi 79 kasus baru yang merupakan penambahan harian terbesar dalam dua bulan terakhir. Akibatnya, pemerintah setempat kembali menutup 251 tempat belajar untuk menyebar infeksi.

Inilah pentingnya kewaspadaan bersama semua pihak, agar tidak terjadi musibah massal di sekolah.

BACA JUGA: Hindari Sederet Kesalahan Ini di Fase Awal New Normal 

Anjuran Ikatan Dokter Anak  Indonesia

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kasus virus Corona di Indonesia belum aman untuk menyudahi school from home. Selain kasus baru Corona yang dikonfirmasi masih banyak, disebutkan pula ada kemungkinan terjadi lonjakan kasus Corona.

Berkaitan dengan itu, IDAI pun memberikan beberapa anjuran yang perlu diperhatikan sebagai berikut.

1. Belajar dari Rumah

IDAI mendukung dan mengapresiasi kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menjadikan rumah sebagai sekolah dan melibatkan peran aktif siswa, guru dan orang tua dalam proses belajar mengajar.

2. Teruskan Pembelajaran Jarak Jauh

IDAI menganjurkan agar kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan melalui skema pembelajaran jarak jauh (PJJ) baik secara dalam jaringan maupun luar jaringan, menggunakan modul belajar dari rumah yang sudah disediakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Anjuran melanjutkan PJJ ini akan dievaluasi secara berkala mengikuti perkembangan kasus COVID-19 di Indonesia.

3. Pertimbangan Waktu Pembukaan Sekolah

Dengan mempertimbangkan antisipasi lonjakan kasus kedua, sebaiknya sekolah tidak dibuka setidaknya sampai bulan Desember 2020. Pembukaan kembali sarana belajar dapat dipertimbangkan jika jumlah kasus COVID-19 telah menurun.

4. Syarat Epidemiologi

Apabila sudah memenuhi syarat epidemiologi untuk kembali membuka sekolah, maka IDAI menghimbau agar semua pihak dapat bekerja sama dengan cabang-cabang IDAI sesuai dengan area yang sudah memenuhi syarat pembukaan.

Perencanaan meliputi kontrol epidemi, kesiapan sistem layanan kesehatan dan sistem surveilans kesehatan untuk mendeteksi kasus baru dan pelacakan epidemiologi.

BACA JUGA: No Pesimis, New Normal Waktunya Kita Junjung Optimisme!

5. Pemeriksaan RT-PCR Secara Masif

Untuk keperluan ekstrapolasi data secara akurat maka IDAI menyarankan agar pemerintah dan pihak swasta melakukan pemeriksaan rt-PCR secara masif (30 kali lipat dari jumlah kasus konfirmasi COVID-19) termasuk juga pada kelompok usia anak.

Kita berharap, dibukanya kembali sekolah, tidak memicu gelombang kedua wabah Covid-19 ini. (Sbg/Rig)

Comments