Ilustrasi Polemik Donald Trump vs Antifa
Karya: Marian Kamensky

Sabigaju.com –  Baru-baru ini Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan beberapa pembantunya, termasuk Jaksa Agung William Barr, menyalahkan kelompok Antifa setelah demonstrasi memprotes kematian George Floyd, dan kabar kebrutalan polisi lainnya, berakhir dengan kerusuhan.

Trump bahkan sudah memberi ultimatum akan memasukkan kelompok Antifa (anti-fasis) sebagai teroris.setelah AS dihantam demonstrasi besar di 30 kota,

Namun, analis maupun pakar hukum menyebut Trump tidak punya kewenangan memasukkan grup domestik sebagai teroris, seperti yang mereka lakukan di luar negeri.

“Tidak ada dasar hukum saat ini yang menyatakan dengan jelas terkait bisa dimasukkannya organisasi domestik sebagai teroris,” ulas Mary McCord, mantan pejabat Kementerian Kehakiman. McCord, yang sebelumnya pernah bertugas di pemerintahan Trump,

McCord juga menjelaskan, jika keputusan itu dipaksakan, maka bertentangan dengan Amendemen Pertama.

Amendemen Pertama Konstitusi AS dengan jelas melarang perampasan kebebasan berpendapat ataupun hak bagi setiap orang untuk berkumpul.

Pakar lain menekankan bahwa Antifa adalah pergerakan yang cair. Jadi, mereka mempertanyakan bagaimana dasar hukum yang dipakai untuk menangani mereka.

“Terorisme adalah label inheren politik. Mudah disalahartikan dan disalahgunakan,” kata Direktur Proyek Keamanan Nasional ACLU, Hina Shamsi.

Apa sebenarnya Kelompok Antifadan benarkah mereka turut serta dibalik kerusahan yang melanda sebagian besar wilayah di AS belakangan ini?

BACA JUGA: Dibalik Pemicu Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran di AS

Penentang Sayap Kanan dan Neo Nazi

Antifa atau akronim dari anti-fasis merupakan payung dari pergerakan sayap kiri ekstrem tanpa adanya kepemimpinan yang pasti.Kelompok itu menentang ideologi sayap kanan ekstrem, di mana mereka melawan neo-Nazi atau kelompok supremasi kulit putih dalam setiap aksinya.

Mereka beranggapan bahwa ide-ide tersebut mengarah pada penargetan kaum marginal, termasuk ras minoritas, perempuan, dan anggota komunitas LGBTQ.

Aksi unjuk rasa kelompok Antifa
(Foto: Instagram)

Perbedaan mendasar antara kelompok anti-fasis periode awal dengan yang muncul pasca-Perang Dunia II adalah ketiadaan pemimpin dan struktur organisasi.

Nah, Antifa yang dikenal saat ini, dengan taktik penyamaran “black-bloc” dan “Nazi-punching”, mulai marak di Amerika pada periode 2000-an awal.

Keberadaan mereka semakin berlipat ganda sejak Trump memutuskan bertarung di kancah pilpres Amerika sejak 2016 lalu.

Banyak pengikut di media sosial dan sering kali membagikan artikel berita berisi identitas serta informasi pribadi tokoh-tokoh kanan.

Sulit mengetahui berapa banyak orang yang mengklaim dirinya sebagai anggota Antifa. Para pengikutnya mengakui bahwa gerakan itu bersifat rahasia, tidak memiliki pemimpin resmi, dan diorganisir ke dalam sel-sel lokal yang otonom.

BACA JUGA: Yuk Belajar Menerima Kekalahan Biar Kamu Enggak Jadi Perusuh 

Kekerasan Sebagai Upaya Pertahanan Diri

Bagi para pengikut kelompok Antifa, kekerasan Antifa sejatinya merupakan upaya pertahanan diri dari berbagai tindakan ekstrem fasis yang membahayakan hak-hak sipil warga negara.

“Argumennya adalah bahwa militan anti-fasisme secara inheren membela diri mereka karena kekerasan yang didokumentasikan secara historis yang diajukan oleh kaum fasis,” kata Mark Bray, seorang dosen sejarah di Dartmouth College dan penulis buku Antifa: The Anti-Fascist Handbook.

Hal itu diamini pula oleh Scott Crow, bekas anggota Antifa yang pernah bergabung dalam kelompok Antifa selama nyaris 30 tahun.

Aksi unjuk Rasa kelompok Antifa
(Foto: Instagram)

“Ide Antifa adalah bahwa kami pergi ke mana mereka (sayap kanan) pergi. Bahwa pidato kebencian bukanlah kebebasan berbicara. Jika Anda membahayakan orang dengan apa yang Anda katakan dan tindakan yang ada di balik itu, maka Anda tidak memiliki hak untuk melakukannya. Jadi, kami memutuskan untuk berkonflik demi mengenyahkan mereka di manapun. Sebab kami tidak percaya bahwa Nazi atau fasis dari garis mana pun berhak memiliki juru bicara.”

Persoalannya lagi-lagi adalah sejauh mana taktik kekerasan Antifa bisa dikontrol oleh anggota-anggotanya sendiri.

Sebab kekerasan yang dilakukan Antifa amat rentan menyasar mereka yang sama sekali bukan kaum sayap kanan atau Neo-Nazi.

Bahkan kamu sekalipun bisa kena gebuk para pendukung kelompok Antifa bila terlihat seperti fasis ataupun pendukung neo nazi.  (Sbg/Rig)

Comments