Banyak orang yang ingin masa pembatasan sosial tetap berlangsung
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Pemberlakuan Status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta tidak sepenuhnya membuat warga Ibu Kota mengisolasi diri. Hal itu lantaran sejumlah aktivitas tetap memaksa warga untuk ke luar rumah.

Meski harus keluar rumah, banyak warga yang tetap berusaha mematuhi pembatasan sosial . Namun, begitu banyak orang yang melanggar aturan pembatasan sosial.

Seakan ada dilema ada dilema dalam pelaksanaan pembatasan sosial. Kesadaran masyarakat juga kurang. Coba dilihat di kampung-kampung ramai warga berkumpul tanpa masker.

Meski demikian tak sedikit orang yang malah tak mau ini pembatasan sosial ini berakhir. Mengapa demikian?

BACA JUGA: Tegaslah Kepada Mereka yang Melanggar Aturan Jaga Jarak 

Gejolak Roller Coaster di Fase Karantina

Menurut pandangan Psikolog Sains Dr Kimberley Norris mengatakan ada lima tahapan psikologi selama isolasi karena COVID-19; Bingung dan panik, Masa bulan madu, Benci, Reuni, dan Reintegrasi.

Pandemi ini memang membuat warga dunia mengalami roller coaster emosi karena kekhawatiran. Hal itu lah yang membuat sebagian orang belum siap untuk kembali ke kehidupan normal.

“Siapa pun yang mengalami sesuatu yang sulit memiliki reaksi yang benar-benar normal terhadap lingkungan abnormal,” katanya.

Dr Norris mengatakan fase reuni akan sangat sulit bagi orang-orang dengan masalah kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya, yang telah kehilangan dukungan informal dari teman, kolega dan keluarga besar selama dua bulan terakhir.

BACA JUGA: Physical Distancing: Pentingnya Menjaga Jarak Fisik Bukan Hati

Jika Pembatasan Sosial Berakhir dan Harus Kembali Normal

Sudah sekitar dua bulan menghambat aktivitas banyak orang, kini muncul rencana untuk membiarkan orang-orang di bawah 45 tahun untuk mulai bekerja.

Meski masih belum pasti, beberapa orang mungkin merasa khawatir jika aturan baru itu akan segera diterapkan.

Pergi ke luar, menghadiri meeting, hingga naik kendaraan umum memang bisa membuat orang yang sedang mengalami masalah mental merasa terbebani.

“Dari apa yang kami dengar mengenai masalah kesehatan mental, beberapa orang merasa sangat kesulitan dengan isolasi karena berbagai alasan dan beberapa orang tidak siap secara mental untuk kembali bekerja penuh,” kata Professor Paula Brough dari Griffith University.

Karena itu, Paula menyarankan agar perusahaan memberi perhatian pada para pekerja ketika nanti mereka benar-benar harus kembali bekerja.

Selain konseling, dianjurkan pula untuk memberikan fleksibilitas untuk tetap bekerja dari rumah beberapa minggu pertama.

“Jangan merasa seolah kamu perlu langsung terlibat kembali dengan jam kerja yang panjang. Jika kamu perlu hari-hari kerja yang lebih pendek atau bekerja di rumah untuk menyesuaikan diri, aku pikir itu baik-baik saja dan aku ingin mendorong perusahaan untuk memfasilitasi,” tambahnya.

BACA JUGA: Meninjau Wacana Social Bubbles di Masa Pandemi Corona 

Masa Isolasi Bakal Dirindukan

Paula menjelaskan jika kembali pelan-pelan adalah cara terbaik untuk menyiasati transisi dari WFH menjadi bekerja normal. Jika ketika nanti waktunya kembali ke kantor sudah tiba, menurutnya normal untuk merindukan masa-masa karantina.

Berdasarkan penelitian, isolasi  ataupun pembatasan sosial justru bisa meningkatkan rasa toleransi, perspektif hidup baru, dan kepercayaan diri.

“Ketika orang-orang punya kesempatan untuk duduk dan berpikir, itu membiarkan mereka untuk mencari tahu apa yang penting untuk mereka, untuk fokus dan mengidentifikasi nilai-nilai mereka. Itu sebenarnya bisa menghasilkan endorphin pada otak,” tutur Paula.

Pandemi Corona memang mengubah hidup banyak orang. Masa-masa pembatasan sosial mengubah pandangan orang mengenai interaksi dan memprioritaskan diri.

Meski memang banyak merugikan tapi periode pembatasan sosial ini bisa membuat seseorang jadi lebih baik dalam mengatasi masalah di masa depan. (Sbg/Rig)

Comments