Feminisme
Feminisme tak hanya bergerak untuk memfasilitasi kaum wanita, tapi juga kaum pria.(Sumber Foto: Via medium.com)

Sabigaju.com – Banyak sekali yang mengira bahwa feminisme hanya memfasilitasi kaum wanita. Feminisme hanya menyuarakan hak-hak wanita agar setara dengan pria. Tapi, bener enggak sih?

Paham tersebut lahir di mana wanita saat itu masih jauh dari keseteraan. Mereka tak mendapat hak voting dalam pemilu, upah pekerja wanita masih kalah jauh dari pekerja pria walau pekerjaan mereka kerap lebih berat, dan bahkan anak mereka secara hukum adalah milik suami. Dari sinilah, feminisme , bergerak secara diam-diam hingga militan.

Namun seiring dengan perkembangan zaman serta pemikiran, feminisme lebih meluas esensinya. Pemikiran ini  tak hanya bergerak untuk memfasilitasi kaum wanita, tapi juga pria.

BACA JUGA: Detoks Maskulinitas: Kekerasan Bukan Gambaran Pria Sejati

Kenapa Pria Butuh Feminisme?

Memang sih, budaya patriarki nampak lebih menguntungkan pria. Tapi sebetulnya, keuntungan ini sifatnya bersyarat. Dalam artian, pria tetap harus memenuhi standar tertentu agar “tampak” lebih beruntung dari wanita.

Misalnya saja laki-laki dinilai lebih kuat dan martabat asalkan mereka menunjukkan maskulinitasnya. Mereka dilarang menunjukkan perasaan, logis dan tak memiliki emosi. Padahal pada dasarnya, setiap manusia memiliki beragam emosi, termasuk menangis.

Karena sifat maskulin tersebut, laki-laki yang gemar memasak, menjahit atau kegiatan yang dinilai feminin akhirnya dianggap kurang bermartabat. Mereka tak bisa bereksplorasi. Tekanan-tekanan ini jugalah yang membuat laki-laki tak bisa mengaktualisasikan diri mereka.

BACA JUGA: Husein Muhammad: Ulama, Pria, Sekaligus Feminis di Indonesia 

Sama halnya dengan perempuan yang selalu dinilai harus berada di ranah dosmetik. Pria juga pada akhirnya akan merasa terkungkung akibat stereotip semacam ini.

Kita melakukan sesuatu bukan karena mampu dan mau, tapi karena terkondisi oleh kontruksi sosial yang ada.

Jika tidak melakukannya, maka laki-laki akan dikatakan girly, banci, kecewek-cewekan, dan tidak jantan. Kita dinilai tak layak membahas apa yang kita rasakan.

BACA JUGA: Wanita Penguasa Tak Selalu Berarti Simbol Feminis

Membebaskan dan Dibutuhkan Kaum  Pria

Pada akhirnya, keterkungkungan ini membuat laki-laki banyak memendam dan menyerah. Jadi wajar saja bila banyak riset menyebutkan bahwa jumlah orang yang bunuh diri lebih banyak laki-laki daripada perempuan.

So, di sinilah feminisme bisa berperan. Karena kesetaraan gender yang dijunjung, maka feminisme juga bisa memfasilitasi kaum pria soal ini.

Asalkan laki-laki dan perempuan setara. Melakukan sesuatu karena mau dan mampu, bukan karena harus. Paham ini dianggap dan diyakini bisa membebaskan laki-laki dalam kondisi seperti ini.

Jadi, pria tetap membutuhkan feminisme, kan? (Sbg/Dinda)

Comments