Anggota masyarakat
(Foto: Freepik.com)

Sabigaju.com – Meski pemerintah sudah menyerukan physical distancing, tampaknya belum mampu memberikan pemahaman yang penuh pada masyarakat akan bahaya Virus COVID-19.

Tengok saja, sejak imbauan dilontarkan pekan lalu, masih saja banyak anggota masyarakat yang bandel berlalu lalang bahkan berkumpul menghadiri acara, atau menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan.

Yup, masih banyak anggota masyarakat yang kurang menyadari pentingnya physical distancing. Pertanyaannya, mengapa orang-orang tidak menganggap serius ancaman virus corona?

BACA JUGA: Gaes, Hindari Sederet Perilaku Covidiot Berikut Ini 

Alasan Masyarakat Enggan Berdiam di rumah

Dalam studi yang dilakukan Psikolog , profesor psikologi di University of Regina di Saskatchewan, aada beberapa faktor psikologis yang terkait penyebaran dan tanggapan terhadap COVID-19.

Gordon mebagi tingkatan masyarakat menjadi tiga kelompok berdasarkan tanggapan kita terhadap pandemi. Yaitu mereka yang menanggapi berlebihan, kurang menanggapi, dan mereka yang berada di antara keduanya.

Mereka yang masuk dalam kelompok “penanggap berlebihan” adalah pembeli panik yang telah menimbun persediaan makanan untuk berbulan-bulan. Mereka takut, dan berharap dengan membeli tumpukan tisu toilet dapat mengurangi ketakutan itu.

Sementara orang-orang yang berada di kelompok “tengah-tengah” melakukan apa yang diminta tanpa panik atau bertindak gegabah. Kemudian, mereka yang kurang menanggapi serius tidak mematuhi pedoman kesehatan masyarakat dan menganggap diri kebal.

Mereka tidak menerapkan physical distancing ataupun social distancing karena percaya mereka tidak akan sakit, meski anjuran itu bisa mencegah lebih banyak orang terinfeksi.

Orang-orang yang tidak menanggapi virus corona secara serius bisa jadi disalahkan apabila virus terus menyebar di suatu negara.

Berkumpul di tengah orang banyak hanya meningkatkan risiko seseorang terpapar. Membatasi kontak dengan orang lain adalah satu-satunya cara untuk memperlambat penyebaran virus corona.

BACA JUGA: Physical Distancing: Pentingnya Menjaga Jarak Fisik Bukan Hati

Pandemi Bukan Masalah Mereka

Bagi sebagian anggota masyarakat, COVID-19 tampak seperti masalah yang ditanggung oleh penduduk di kota-kota yang padat atau negara-negara asing. Mereka merasa sedih, tapi itu bukan beban mereka.

Masyarakat yang tinggal di sebuah kelompok di mana infeksi tidak menyebar atau petugas tidak memberlakukan lockdown cenderung tidak menjauhkan diri dari orang lain, kata Steven Taylor, psikolog klinis dan penulis “The Psychology of Pandemics.”

“Orang-orang meremehkan pentingnya –mungkin karena mereka tidak melihat orang-orang di komunitas mereka terkena virus,” kata Taylor. Mereka mengalami mati rasa Virus corona menciptakan apa yang disebut Taylor sebagai “infodemik.”

Infodemik adalah gelombang informasi berlebihan tentang suatu masalah, yang kemudian menyulitkan identifikasi solusi.

BACA JUGA: Game Keren Buat Mengusir Kebosanan Physical Distancing

Mereka kesepian

Para psikolog setuju, manusia mendambakan koneksi, dan kehilangan interaksi sosial untuk waktu yang lama bisa terasa menyakitkan.

Hal ini bisa sangat sulit bagi orang tua, di mana mereka memiliki risiko kematian lebih tinggi akibat depresi dan kesepian.

Mereka cenderung kurang tertarik menggunakan perangkat teknologi, seperti FaceTime atau Zoom, untuk berkomunikasi. Kita makhluk sosial. Kita juga memiliki banyak kebebasan.

“Sulit menyatukan persepsi antara responden ekstrem dan responden yang tidak menanggapi pandemi secara serius,” kata Asmundson.

Tapi para ahli setuju akan satu hal. Meyakinkan masyarakat agar tetap berada di rumah adalah taruhan terbaik kita dalam melawan pandemi covid-19. (Sbg/Rig)

Comments