Millenials Memilih untuk Single

Sabigaju.com – Pernah ada masa dimana pernikahan menjadi tujuan hidup bagi seseorang. Pasalnya, dulu pernikahan dianggap sebagai salah satu cara untuk menaikkan derajat hidup, khususnya bagi kaum perempuan. Tapi itu dulu, selagi budaya patriarki masih dominan di masyarakat.

Kini zaman telah berubah. Peran perempuan tidak lagi minor. Di tengah seruan tentang kesetaraan gender yang digaungkan, perempuan memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Perempuan mendapatkan peran-peran penting dalam kehidupan sosial dan pemerintahan, juga menentukan dengan siapa ia akan menikah, dan kapan ia hendak menikah. Bahkan.. akan menikah atau tidak.

Dilansir dari situs Psychology Today, sebuah survey di Amerika menunjukkan bahwa dari 51% penduduk Amerika yang tercatat telah menikah, hanya sebanyak 20%-nya yang berusia 18-29 tahun. Artinya, praktis, kebanyakan millennials di bawah usia 35 tahun akan memiliki lebih banyak teman sebaya yang belum menikah dibanding yang sudah menikah.

Psikolog, penulis sekaligus relationship expert, Antonia Hall, mengatakan kepada situs Bustle. “Banyak millennials tumbuh di tengah peningkatan angka perceraian, jadi mereka jauh lebih kecil kemungkinannya untuk menganggap pernikahan sebagai satu-satunya bentuk hubungan yang terbaik untuk diri mereka sendiri.” Menurutnya, hal tersebut juga diperkuat dengan tambah tingginya biaya hidup dan pendidikan, millennials merasa kurang aman secara finansial. Sehingga terikat dengan seseorang dan berkompromi dengan kepentingan orang lain, seperti dalam pernikahan, dirasa tidak menarik.

Mengapa Millenials Memilih untuk Single

Efek hook-up culture

Tidak banyak dari generasi millennial yang masih menjalin hubungan jangka panjang dengan satu orang sejak masa remajanya, ditambah lagi meningkatnya budaya hook-up. Artinya, tidak banyak young adults yang memiliki pengalaman menjalin hubungan intim dan berkomitmen. Apalagi berjuang mempertahankan hubungan dengan pacarnya.

Hal semacam itu adalah ‘keterampilan’ yang harus dilatih dari waktu ke waktu, dan mereka yang menganut  hook-up culture tak akan bisa duduk berhadapan dengan pasangannya. Mereka tidak berbicara dari hati ke hati. Sulit menyadari bahwa pasangannya tersebut–di samping daya tarik seksual–adalah orang yang dia inginkan untuk menjadi partner menghabiskan sisa hidupnya bersama atau bukan.

Sifat individualis yang kental

Kecanggihan teknologi yang terus meningkat seiring dengan tumbuhnya generasi millennial secara tidak langsung mempengaruhi pembentukan karakter mereka. Minimnya interaksi membuat millennials menjadi cenderung individualis. Ini juga yang membuat millennials menjadi enggan berkompromi dengan orang lain. Yang harus dilakukan jika ia berkomitmen dalam hubungan pernikahan.

Millennials merayakan kebebasan sebagai seorang single

Ya, dengan segala kebebasan yang dimiliki, generasi millennial memilih menjadi single karena segala ambisi yang dia upayakan untuk terwujud, juga kemapanan yang ia perjuangkan, bisa ia nikmati seorang diri. Bagi mereka, itu jauh lebih baik dibanding harus berbagi dengan seseorang yang belum tentu bisa memenuhi keinginan serta kebutuhannya.

Begitulah sedikit gambaran mengapa perempuan di generasi millennial tidak begitu tertarik dengan pernikahan, bahkan tidak menjadikan pernikahan sebagai prioritas dalam hidupnya. Marriage can wait, they said. (Sbg/Ftr)

Comments