Aktivitas Berpelukan
Source : thetimes.co.uk

Sabigaju.com – Selain bisa menambah keintiman dengan pasangan, aktivitas berpelukan juga punya manfaat bagi kesehatan manusia.

Salah satu manfaat aktivitas berpelukan diketahui dapat membuat seseorang merasa nyaman berdekatan dengan pasangannya. Sebab pelukan mengeluarkan hormon oksitosin yang dikenal juga dengan hormon cinta.

Namun demikian aktivitas berpelukan bila dilakukan terlalu sering dengan pasangan punya dampak yang kurang baik yakni bisa menimbulkan kecanduan seks. Berikut ulasannya.

BACA JUGA: Kamu Suka Cuddling dengan Pasangan? Ini Dia Segudang Manfaatnya 

Aktivitas Berpelukan dan Kecanduan Seks

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Karolinska Institute di Swedia mengungkapkan sebuah fakta yang bisa dibilang mengejutkan. Dimana aktivitas berpelukan ternyata bisa membuat seseorang kecanduan seks.

Peneliti mengungkapkan hal itu setelah mengamati kondisi darah dari 60 orang yang dirawat karena kecanduan seks. Sebagian besar peserta penelitian tersebut adalah pria.

Dalam pengamatannya, para peneliti menemukan adanya perbedaan susunan genetik pada mereka yang menjadi pecandu seks. Menurut peneliti, terlalu sering pelukan dapat membuat kadar oksitosin seseorang berlebih.

BACA JUGA: Waspada! Begini Tanda-tanda Kamu Kecanduan Seks

Akibatnya, ia merasa terikat dan memiliki keinginan untuk tetap bersama. Pada saat yang sama, kondisi itu membuat dirinya secara kompulsif mencari seks.

Dalam penelitian ditemukan perbedaan penting dalam materi genetik ‘microRNA’ peserta yang kelebihan hormon oksitosin. Meskipun perbedaan itu sangat kecil, tetapi cukup untuk mengubah microRNA yang berdampak pada kecanduan seks.

Dampak Kecanduan Seks

Menurut penulis senior penelitian, Profesor Jussi Jokinen, banyak peserta yang tidak dapat mengendalikan perilaku karena kelebihan hormon. Efek buruknya pada kehidupan adalah hubungan yang terputus, mengalami depresi, dan kecemasan.

“Berdasarkan temuan penelitian kami, ada bukti yang menunjukkan bahwa kecanduan seks adalah diagnosis medis yang memiliki penyebab neurobiologis.

Hasil dari temuan ini dapat menjelaskan alasan terapi perilaku kognitif diperlukan untuk menurunkan oksitosin,” ungkap Profesor Jussi.

BACA JUGA: Mengenal Gangguan Hiperseksual dan Efeknya

Dia menambahkan, terapi perilaku kognitif dapat membantu pecandu seks mengubah cara berperilaku kepada pasangan atau mendapatkan obat untuk membatasi hormon oksitosin.

Sebab organisasi kesehatan dunia WHO telah menetapkan kecanduan seks sebagai bentuk penyakit mental.

Kita tetap bisa melakukan aktivitas berpelukan dengan pasangan tanpa harus berlebihan b yah gaes agar kita tidak mengalami  kecanduan seks. (Sbg/Rig)

Comments