Sabigaju.com – Genap dua tahun isu yang sedang digadangkan di media sosial, di Hari Perempuan Internasional 2018 #MeToo dan #TimesUp pada hari ini mencapai momentum puncak. International Women’s Day atau Hari Perempuan Internasional 2018 dirayakan oleh seluruh negara di dunia, terutama oleh kaum wanita. Menyorot wanita sebagai agen perubahan di seluruh belahan dunia, Hari Perempuan Internasional tahun ini berbeda dari biasanya.

Dengan mengangkat tanda pagar #IWD2018, Dewan Serikat Buruh Australia menuntut 3 hal tahun ini. Salah satu di antaranya adalah 10 hari izin cuti bagi para wanita korban kekerasan dalam rumah tangga. Masih dari negara yang sama, penghargaan tahunan Stella Prize kali ini spesial menganugerahkan AUD 50,000 bagi para penulis wanita yang terpiih.

Jatuh setiap tanggal 8 Maret tiap tahunnya, Hari Perempuan Internasional dirayakan oleh hamper setiap negara dengan berbagai isu terkait wanita.

Jurnalis fotografer asal Spanyol, Elena Del Estal, merilis karya liputan kisah seorang wanita India yang  dijual untuk dinikahkan. Karya Elena merupakan satu kisah yang mewakili kisah ketidakadilan lainnya pada wanita di dunia. Dokumentasi yang dibuatnya dirilis dan didukung oleh banyak media di Eropa dan Amerika sehingga meningkatkan kesadaran banyak pihak.

Di Inggris Raya, pada hari ini lebih dari 100 anggota parlemen dari berbagai partai meminta juga turut mengambil momentum. Mereka meminta kepada Sekretaris Negara Amber Rudd untuk meloloskan izin aborsi di Irlandia Utara. Dalam hal ini, negara bagian Inggris telah lebih dulu melegalkan aborsi untuk alasan kesehatan dan keadaan mental sang wanita.

Di Asia Pasifik, institusi dan yayasan Ernst & Young menggelar penghargaan Wanita Pengusaha yang berprestasi di bidangnya. Anugerah tahunan ini menjajarkan sejumlah wanita pebisnis yang telah membuktikan eksistensi dan kredibilitas mereka di kancah Asia Pasifik. Ajang yang juga disebut sebagai EY Entrepreneurial Winning Women Asia Pacific and Japan menobatkan CEO dan Presiden dari berbagai perusahaan.

Di Madrid dan Barcelona, aksi unjuk rasa untuk menyuarakan kesenjangan kesejahteraan perempuan di Spanyol pada Hari Perempuan Internasional 2018. Gerakan ini juga dikenal sebagai ‘feminist strike’ dimana para pekerja wanita akan bolos dari kantornya untuk ikut unjuk rasa.

Di Amerika Serikat, tepatnya New York telah diumumkan bahwa tahun ini yang menjadi warna Hari Perempuan Internasional adalah ungu. Hal ini meneruskan warna putih pada tahun 2016 saat pemilu, kemudian hitam pada tahun 2017 saat Emmy Award. Pemilihan warna ungu adalah simbol dari wanita, dimana sejarahnya warna ungu, hijau dan putih melambangkan kesetaraan wanita.

Nancy Pelosi, Pimpinan Dewan Minoritas Amerika Serikat, menekankan kembali pentingnya kesetaraan dan rasa hormat antara manusia lewat kicauan di akun Twitternya. Kicauan ini disertai dengan fotonya bersama para anggota Dewan yang mewakili gambaran kesetaraan gender.

Tahun 2018, website resmi Hari Perempuan Internasional (IWD) mengangkat tema #PressforProgress.

Selain mengangkat tema tuntutan kesetaraan gender dan keadilan, untuk perempuan di dunia Hari Perempuan Internasional juga mengangkat hal lain. Di antaranya yaitu penghargaan dan pengakuan terhadap prestasi para perempuan di dunia. PBB secara khusus telah mengeluarkan program pemberdayaan perempuan dimana targetnya untuk jangka pendek dan panjang. Pada tahun 2030, wanita di daerah terpencil diharapkan dapat lebih maju dan diberdayakan. (Sbg/Nov)

Comments