Amazon
(Sumber Foto: humanresourcesonline.net)

Sabigaju.com – Tak ada yang menyangka kalau Amazon , yang semula hanya merupakan toko yang hanya menjual buku kini bertransformasi menjadi sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan berbasis online yang terbesar di dunia.

Berdirinya Amazon pada tahun 1995 dan berkembang dengan sangat pesat sampai sekarang, tentunya membuat banyak e commerce lain waspada menghadapi persaingan baru.

Padahal Amazon selama ini memiliki pola yang sama saat hadir si suatu negara. Satu tahun pertamanya dipakai untuk menguji pasar di negara itu. Setelah satu tahun, barulah Amazon memutuskan apakah mereka akan tetap berada di sana atau hengkang.

BACA JUGA: Ragam Pekerjaan yang Diprediksi Tergusur Kecanggihan Teknologi 

Mirip Gaya Mengelola Negara

Kini dunia terus mengamati transformasi mengagumkan dari amazon yang dikelola bukan seperti sebuah situs dagang online namun mirip mengelola sebuah negara.

Bahkan para politikus dunia seakan-akan tidak bisa berkutik jika sudah berhadapan dengan kekuatan pasar yang dimiliki marketplace online Amazon.

Hal itu dapat dilihat lewat salah satu hal yang dilakukan olehnya ketika melawan regulasi pajak yang dikeluarkan oleh Pemerintah Prancis.

Prancis, yang baru saja mengenakan pajak sebesar 3 persen kepada perusahaan teknologi global bernilai 750 juta Euro (Rp11 triliun) dan raksasa teknologi Prancis senilai 25 juta Euro (Rp391 miliar). Amazon jelas masuk dalam target skema pajak itu.

Hal ini sebenarnya sah-sah saja. Sebab, satu-satunya pihak yang berwenang memungut pajak adalah negara, tetapi sepertinya perusahaan sekelas Amazon tak takut, malah menantang dan merebut kedaulatan negara kebangsaan di manapun itu.

Amazon kemudian membalasnya dengan memberlakukan pajak pada produk ataupun entitas bisnis asal Prancis yang titip jual di lapak mereka sebesar 3 persen.

BACA JUGA: Kesiapan Orangtua Melek Teknologi

Gunakan Armada Terbang Sendiri

Tahun ini Amazon.com Inc mulai mengeksplorasi untuk menggunakan drone dalam pelayanan pengiriman barang dan sebagai layanan pengawasan keamanan barang pada para pelanggannya.

Nah uniknya layanan pengantaran menggunakan drone bisa pula dimanfaatkan untuk merekam, mengumpulkan data, dan mengecek properti pengguna, seperti jika ada jendela yang jebol, kebakaran, atau jika garasi dibiarkan terbuka sepanjang hari.

(Sumber Foto: webpronews.com)

Dari hak yang diberikan Pemerintah AS kepada Amazon.com Inc., fungsi pengawasan dari drone terbatas pada geo-fencing, teknologi yang digunakan untuk menggambar batasan virtual di sekitar properti yang diawasi.

Data atau gambar yang didapat di luar tangkapan geo-fence drone akan diburamkan atau dihapus.

Amazon menyebutkan akan mulai mengantarkan paket-paketnya ke pelanggan dengan drone sehingga pengantaran hanya akan memakan waktu sekitar 30 menit atau kurang dalam beberapa bulan ke depan.

Meski layanan ini untuk sementara berlaku di Sejumlah wilayah Amerika Serikat bukan tak mungkin kedepannya bakal berlaku ke seluruh dunia.

BACA JUGA: 5 Perangkat Simpel Nan Canggih Ini Bikin Hidupmu Lebih Mudah!

Piranti Intelejen

Layanan cloud computing Amazon merupakan salah satu sumber keuntungan perusahaan yang terus tumbuh bahkan tidak menunjukan langkah slowing down alias melambat

berperan penting dalam berfungsinya berbagai perusahaan, layanan intelijen, dan entitas pemerintahan.

Amazon

Amazon menguasai lebih dari 50 persen pangsa pasar (Microsoft hanya 13 persen) dan hampir setengah dari seluruh infrastruktur cloud publik. Ini menunjukkan tidak ada cara mudah menghindari pengaruh raksasa teknologi.

Amazon kini sedang berlomba merebut hati Pentagon untuk mengembangkan “war cloud”, yang dapat menciptakan sistem kecerdasan buatan yang mampu berperang.

Amazon berhasil menciptakan piranti jaringan pengawasan pribadi berkat Ring (perusahaan pengawasannya), yang bermitra dengan ratusan departemen kepolisian.

Bangun Habitat di Luar Angkasa

Pendiri Amazon.com, Jeff Bezos kini tengah berencana membangun habitat luar angkasa yang telah dikembangkannya secara rahasia selama bertahun-tahun.

Dirinya berencana menempatkan manusia ke bulan untuk tinggal. Dalam prosesnya, dia juga mengungkapkan visi ambisius untuk kolonisasi ruang angkasa.

Habitat mandiri yang dapat menampung seluruh kota, area pertanian, dan bahkan taman nasional di luar angkasa.

BACA JUGA: Elon Musk dan Berbagai Teknologi Menakjubkan Garapannya 

Amazon
(Foto: Blue Origin)

Di masa depan seperti hal itu mungkin menjadi jalan keluar ketika dihadapkan dengan sumber daya alam yang semakin menipis di Bumi.

Selain itu Koloni yang dibangun jaraknya cukup dekat dengan Bumi sehingga memungkinkan orang melakukan perjalanan bolak-balik antar galaksi.

Selain dapat  menampung ‘satu juta orang atau lebih untuk masing-masing koloni. Nantinya habitat ini akan memiliki ‘iklim ideal ‘setiap saat, sepanjang tahun.

Melihat berbagai hal tadi akankah Amazon bertransformasi menjadi negara online  pertama? Transformasi (Sbg/Rig)

Comments