Ruu Permusikan
Arus deras penolakan RUU Permusikan mengalir deras di media sosial Twitter, dimana para pelaku musik serta netizen di tanah air beramai ramai mengusung tagar #Tolak RUUPermusikan.

Sabigaju.com –¬†Ratusan pelaku musik di tanah air kembali menyuarakan sikap menolak draf Rancangan Undang Undang alias RUU Permusikan.

RUU Permusikan yang diusulkan Komisi X DPR ternyata mendapat banyak kritik dari publik, terutama musisi Tanah Air. RUU itu dianggap memuat sejumlah pasal karet yang mengancam musisi dan seniman musik.

Di antara mereka terdapat artis- artis musik seperti Rara Sekar, Danilla Riyadi, Endah N Rhesa, Efek Rumah Kaca, Bonita, Barasuara, Vira Talissa, Petra Sihombing, Nadine Hamizah, Mondo Gascaro, dan lain-lain.

Tidak hanya musisi atau seniman musik yang menggaungkan penolakan, banyak juga dari warganet yang menyuarakan kritik terhadap RUU tersebut. Banyak di antaranya menyorot pasal yang dianggap merupakan bentuk represi terhadap kebebasan berekspresi.

Netizen secara beramai-ramai mengusung tagar #tolakRUUPermusikan hingga duduk di puncak trending topik Twitter Indonesia.

BACA JUGA:

 

Point yang Diprotes Netizen dan Musisi dalam RUU Permusikan

Sebelum RUU Permusikan disahkan, ada beberapa kontroversi yang sudah beredar terkait isinya. Sebagian musisi menganggap RUU itu menghambat ruang gerak musisi untuk beraktivitas.

Beberapa musisi menyebut RUU permusikan seharusnya tidak perlu, karena bisa membatasi ruang ekspresi para musisi dan seniman musik di Tanah Air, meski ada beberapa yang mendukung.

Isi pasal 5 RUU permusikan ini berisi larangan bagi para musisi: dari mulai membawa budaya barat yang negatif, merendahkan harkat martabat, menistakan agama, membuat konten pornografi hingga membuat musik provokatif.

Banyak musisi yang mempertanyakan, tentang musik provokasi seperti apa ukuran dan jelasnya. Karena bisa saja itu menjadi Pasal karet. Hal itu juga dianggap para musisi dianggap sebagai membatasi ruang ekspresi dan seni. Sementara seni adalah ruang bebas.

RUU Permusikan Bakal Segera Disahkan?

Selain itu ada dugaan, beberapa pasal di dalam draf aturan ini malah terkesan mendukung industri besar.

Salah satu indikasi adalah adanya beleid yang mensyaratkan sertifikasi pekerja musik. Selain itu, Pasal 10 aturan ini juga mengatur distribusi musik yang malah mendukung industri besar. Karena tidak memberikan ruang kepada musisi untuk mendistribusikan karya secara mandiri.

Pasal ini sangat berpotensi meminggirkan musisi independen. Pasal ini seakan menegasikan praktek distribusi karya musik yang selama ini dilakukan oleh banyak musisi yang tidak tergabung dalam label atau distributor besar.

Selain itu salah satu beleid di dalam RUU Permusikan ini memuat rencana adanya uji kompetensi dan sertifikasi bagi musisi. Dan menurut para musisi pasal-pasal terkait uji kompetensi ini berpotensi mendiskriminasi musisi autodidak untuk tidak dapat melakukan pertunjukan musik jika tidak mengikuti uji kompetensi.

Saat ini RUU Permusikan sendiri saat ini sudah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas. Hal itu berarti RUU tersebut menjadi salah satu yang akan dibahas untuk segera disahkan. (Sbg/Rig)

Comments