Perang tak melulu pakai senjata, tiga wanita ini adalah buktinya.

Sabigaju.com – Kartini lahir pada 21 April, 139 tahun yang lalu. Itu sebabnya, nama Kartini selalu dikenang pada 21 April setiap tahunnnya. Di hari ini pun, bumi Indonesia masih penuh dengan selebrasi terkait kelahiran wanita yang lahir di Jepara tersebut.

Kartini memang tidak berjuang pakai senjata, namun dengan pemikiran cemerlangnya. Tak seperti Cut Nyak Dien dan Cut Nyak Ditiro, Kartini hidup dengan banyak perjuangan untuk kaum perempuan.

Baca juga: Selain Kartini, Inilah Lima Pejuang Wanita yang Terlupakan

Napas perjuangan Kartini masih bisa kita rasakan hingga sekarang, walaupun masih banyak di antara kita yang menafsirkan Kartini dari identitas kulturalnya saja seperti yang diungkap Ruth Indiah Rahayu pada epilog buku “Panggil Aku Kartini Saja” karya Pramoedya Ananta Toer. Masih lekat di antara kita bahwa Hari Kartini bisa dirayakan hanya sebatas dengan pengenaan kebaya atau sanggul semata.

Namun nyatanya, Kartini berjuang tak sendiri demi kesetaraan kaumnya. Ada banyak pahlawan emansipasi wanita lain yang sudah sepatutnya kita kenang pula.

1. Dewi Sartika

Wanita kelahiran Tanah Sunda ini terlahir dari keluarga priyayi Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Karena pernah belajar di sekolah Belanda, Dewi Sartika punya pemikiran yang luas. Itu sebabnya ia selalu meneruskan perjuangannya demi kaum hawa di daerahnya.

Dewi Sartika mengajar sejak usianya 10 tahun. Murid-muridnya adalah anak pembantu agar kelak mereka bisa membaca dan menulis. Berbeda dengan Kartini yang jarang didukung lingkungan sosialnya, perjuangan Dewi Sartika mendapat dukungan dari keluarga. Ia pun mendirikan Sakola Istri (sekolah perempuan) pertama se-Hindia Belanda dan beroperasi di Bandung pada 16 Januari 1904.

2. Rasuna Said

Namanya mungkin sering Anda dengar sebagai nama jalan. Namun nyatanya Rsauna Said adalah pahlawan emansipasi wanita yang sama berjuang tanpa pakai senjata.

Pemikirannya tajam dan kritis. ia pernah berpidato dan tulisannya bersifat anti-kolonialisme. Rasuna said juga memperjuangkan kesetaraan gender dengan menjadi satu-satunya santri perempuan.

Ia pun mewujudkan kesetaraan gender dengan mengajar di Diniyah Putri dan ikut berpolitik di Sarekat Rakyat dan Persatuan Muslimin Indonesia.

3. Nyi Siti Walidah Ahmad Dahlan

Setelah menikah dengan pemuka Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, Siti Walidah akhirnya memiliki pandangan yang luas tentang kaum perempuan. Ia membuka asrama dan sekolah putri, mengajar kursus pelajaran Islam dan pemberantasan buta huruf di kalangan perempuan, serta menerbitkan majalah bagi kaum perempuan. Padahal sebelumnya, Siti Walidah hanya mendapat ilmu agama dari sang ayah tanpa dibekali ilmu pengetahuan umum.

Demikian mengenai pahlawan wanita yang berperang demi emansipasi. Mereka membuktikan bahwa berperang tak perlu mesti dengan darah dan senjata, namun juga pemikiran yang bisa mengubah dunia. (sbg/Dinda)

Comments