Kematian Skripal membuat hubungan Rusia dan Inggris menegang.

Sabigaju.com – Mantan mata-mata agen ganda Moskow, Sergei Skripal dan putrinya, Yulia meninggal setelah sempat dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis. Sebelum akhirnya meninggal, keduanya ditemukan tak sadarkan diri di sebuah bangku umum di Salisbury yang terletak tak jauh dari pusat perbelanjaan.

Dikutip dari CNN Indonesia, kematian Skripal disebabkan oleh racun saraf milik Rusia. Polisi mengonfirmasi bahwa keduanya terpapar racun saraf atau zat kimia yang bisa melumpuhkan sistem saraf tubuh hingga menimbulkan kematian. Percobaan pembunuhan dengan racun saraf ini menimbulkan ketegangan antara Pemerintah Inggris dengan Inggris. Perdana Menteri Inggris, Theresa May, menyatakan bahwa ada kemungkinan besa Rusia menjadi dalang di baling serangan racun terhadap mantan agen ganda, Skripal dan putrinya.

Serangan Racun Saraf di Balik Kematian Skripal

Kematian Skripal dan putrinya pada awal Maret ini memang memicu spekulasi yang bermuara pada Rusia. Apalagi Sergei Skripal merupakan mantan intelijen militer Rusia yang mengkhianati puluhan agen negaranya dan bekerja untuk intelijen Inggris. Skripal pernah ditangkap di Moskow dan dipenjara pada 2006. Dia pun baru dibebaskan pada tahun 2010 dalam program pertukaran mata-mata. Sejak saat itu, Skripal menetap di Salisbury, Inggris.

Rekam jejak Skripal yang pernah mengkhianati negaranya sendiri sangat mungkin memicu dendam Rusia pada dirinya. Oleh karena itu, spekulasi bahwa Rusia menjadi dalang di balik kematian mantan mata-mata ini pun cukup kuat.

Perdana Menteri Inggris melontarkan dugaan terkait keterlibatan Rusia terhadap kematian Skripal setelah hasil penyelidikan keluar. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa Skripal terpapar racun Novichok. Racun ini merupakan senjata kimia yang dikembangkan oleh Rusia. Rusia kerap menggunakan racun jenis ini untuk membunuh pembangkang.

Kematian Skripal memicu ketegangan Inggris dan Rusia

Insiden kematian Skripal dan putrinya pun membuat Rusia harus menerima keputusan pemerintah Inggris untuk mengusir 23 diplomatnya. Sebagaimana dikutip dari Reuters pada Rabu (14/3), Theresa May mengatakan di hadapan Parlemen, “Di bawah Konvensi Wina, Inggris akan mengusir 23 diplomat Rusia yang teridentifikasi sebagai pejabat intelijen tak resmi.” Diplomat Rusia ini selanjutnya hanya diberi waktu satu minggu untuk pergi.

Sementara itu, Maria Zakharova selaku juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia membenarkan bahwa 23 diplomat dari negaranya diusir oleh Inggris. Zakharova sudah menerima nama-nama dari 23 diplomat yang dimaksud. Untuk saat ini, pihaknya sedang mempertimbangkan respon yang sepadan untuk keputusan Inggris ini.

Respon yang kredibel dari Rusia sedang ditunggu-tunggu oleh Inggris. May kembali mengungkapkan bila tidak ada respon yang kredibel, Inggris akan menyimpulkan bahwa insiden ini adalah “penggunaan kekuatan tak sesuai hukum oleh Rusia terhadap Inggris” dan bakal menanggapi dengan keras. (Sbg/Erny)

Comments