Sabigaju.com – Sebagai penikmat buku, tentunya ingat jika tanggal 23 April merupakan Hari Buku serta Hak Cipta Sedunia yang diadakan UNESCO untuk mempromosikan peran pembaca, penerbitan serta hak cipta.

Sejarah Singkat Hari Buku

Tahun 1923, penulis dari Valencia, Vicente Clavel Andres memberi ide untuk menghargai penulis Miguel de Cervantes yang meninggal di tanggal tersebut. Alhasil, para pedagang buku kemudian membuat perayaan di Catalunya, Spanyol, dengan memberi buku serta kegiatan-kegiatan lain.

Sebelumnya, acara ini lekat akan tradisi La Diada de Sant Jordi (atau Hari Saint George), di mana warga memberi bunga mawar merah pada kerabat, anggota keluarga dan pasangan.

BACA JUGA: The Reading Room, Kafe Favoritnya Para Pecinta Buku di Jakarta

Mulai tahun 1995, UNESCO menetapkan 23 April sebagai Hari Buku serta Hari Hak Cipta sedunia karena tanggal tersebut merupakan hari kematian William Shakespeare (sastrawan Inggris yang lahir dan wafat 23 April), Maurixe Druon (novelis Prancis yang lahir  23 April 1918) dan Inca Garcilaso de la Vega (penyair Spanyol yang wafat 23 April 1616), serta hari lahir atau kematian beberapa penulis terkenal lainnya.

Perayaan Hari Buku di Berbagai Negara

Sejumlah negara punya cara tersendiri memperingati Hari Buku Sedunia. Di Brazil, setiap toko buku ikut merayakan dengan menggelar kampanye terkait kesusastraan anak. Inilah awal mula penghargaan Andersen Prize, ajang penghargaan internasional bagi penulis dan ilustrator sastra anak di seluruh dunia. Penghargaan ini diraih oleh seorang penulis anak-anak Latin dari Argentina bernama Maria Teresa Andruetto pada tahun 2004.

BACA JUGA: Buku Leaders Sebut Adolf Hitler sebagai Pemimpin Inspiratif

Berbeda dengan Meksiko. Negara ini mengadakan pembacaan buku yang terbuka untuk umum selama 12 jam berturut-turut. Kegiatan ini dimulai sejak tahun 2008 dan diselenggarakan di auditorium Centre Educational Technology, Campus el Naranjo, Colima University. Sedangkan di Madagaskar, Afrika, berbagai kegiatan diadakan dengan berbasis pada dua tema, yaitu pendidikan dan hak cipta.

Sedangkan di Swedia, ada kontes buku terbaik yang terbuka bagi segala usia. Berbagai sekolah dan perpustakaan juga ikut menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan literasi, contohnya kuis tentang buku, lomba menulis resensi, story telling serta bedah buku. (Sbg/Van)

Comments